Presiden Daniel Chapo memutuskan membatalkan kehadirannya di World Economic Forum di Davos, Swiss, pekan ini, menyusul banjir besar yang melanda negaranya dan telah menewaskan setidaknya 105 orang. Bencana tersebut juga berdampak pada hampir setengah juta warga di berbagai wilayah Mozambik.
Dalam unggahan di Facebook pada akhir pekan, Chapo menyatakan Mozambik tengah berada dalam masa krisis. “Kami sedang melalui masa yang sangat sulit. Prioritas mutlak saat ini adalah menyelamatkan nyawa,” tulisnya, menegaskan alasan pembatalan kunjungan internasional tersebut.
Keputusan ini diambil di tengah memburuknya krisis banjir di kawasan Afrika bagian selatan. Di saat yang sama, Afrika Selatan menetapkan status bencana nasional pada Minggu (19/1/2026) setelah cuaca ekstrem menewaskan sedikitnya 30 orang di sejumlah provinsi bagian utara.
Hujan Deras Picu Banjir Meluas di Mozambik
Hujan lebat yang mengguyur sejak pertengahan Desember 2025 menyebabkan banjir meluas di sejumlah provinsi Mozambik, termasuk Gaza, Maputo, dan Sofala. Laporan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) yang dirilis Minggu menyebutkan beberapa daerah aliran sungai telah melampaui ambang siaga, memicu genangan luas dan kerusakan infrastruktur.
OCHA memperkirakan lebih dari 400.000 orang telah terdampak, dengan angka yang berpotensi terus meningkat seiring hujan yang belum mereda. Sementara itu, data Institut Nasional untuk Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Mozambik (INGD), yang dikutip Bloomberg, menyebutkan jumlah warga terdampak mendekati 500.000 orang, dengan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan berat hingga hancur total.
Respons Regional dan Dampak Lintas Negara
Sebagai bentuk solidaritas regional, Afrika Selatan mengerahkan helikopter angkatan udara untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah Mozambik yang paling parah terdampak. Namun, negara tersebut juga menghadapi krisis serupa di dalam negeri. Provinsi Limpopo dan Mpumalanga dilaporkan mengalami kerusakan besar, ribuan rumah rusak, serta sejumlah jalan dan jembatan hanyut tersapu banjir.
Cuaca ekstrem juga berdampak pada Zimbabwe, di mana lebih dari 70 orang dilaporkan meninggal sejak awal tahun, dengan lebih dari 1.000 rumah hancur, menurut Unit Perlindungan Sipil setempat.
Secara keseluruhan, lebih dari 100 korban jiwa telah tercatat di Mozambik, Afrika Selatan, dan Zimbabwe sejak hujan deras mulai mengguyur kawasan tersebut akhir tahun lalu.
Kerusakan Ekonomi dan Pariwisata
Di Afrika Selatan, Provinsi Limpopo memperkirakan kerugian mencapai US$240 juta akibat kerusakan infrastruktur dan permukiman. Taman Nasional Kruger, salah satu destinasi wisata paling ikonik di kawasan tersebut dan berbatasan langsung dengan Mozambik, sempat ditutup selama beberapa hari. Ratusan wisatawan dan staf dievakuasi dari kamp-kamp yang terendam banjir sebelum taman nasional itu kembali dibuka untuk kunjungan harian pada Senin.