WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyampaikan apresiasi kepada pimpinan Iran setelah Teheran membatalkan rencana eksekusi gantung terhadap lebih dari 800 pengunjuk rasa yang ditangkap selama gelombang demonstrasi besar-besaran di negara tersebut.
“Saya sangat menghormati fakta bahwa semua rencana hukuman gantung, yang seharusnya dilaksanakan kemarin (lebih dari 800 orang), telah dibatalkan oleh pimpinan Iran. Terima kasih!” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat (16/1/2026), sebelum bertolak ke Florida untuk menghabiskan akhir pekan. Ia menegaskan bahwa keputusan Iran membatalkan eksekusi tersebut berdampak signifikan terhadap sikapnya.
“Tidak ada yang meyakinkan saya, saya yang meyakinkan diri sendiri,” kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih menuju Florida.
“Mereka tidak mengeksekusi siapa pun. Mereka membatalkan hukuman gantung. Itu berdampak besar.”
Langkah ini menandai perubahan sikap Trump yang sebelumnya, selama dua pekan terakhir, berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer untuk mendukung para pengunjuk rasa. Ancaman tersebut muncul di tengah laporan kelompok hak asasi manusia yang menyebut aparat keamanan Iran telah menewaskan ribuan warga sipil dalam penindasan demonstrasi.
Trump juga membantah klaim sejumlah pemimpin negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Oman, yang disebut-sebut memimpin upaya diplomasi untuk membujuknya membatalkan rencana serangan terhadap Iran.
Pembatalan eksekusi massal ini terjadi di tengah protes nasional yang meletus sejak 28 Desember 2025. Awalnya dipicu krisis ekonomi yang kian parah, demonstrasi dengan cepat berkembang menjadi tuntutan pengunduran diri Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta diakhirinya sistem pemerintahan berbasis klerikal.
Kelompok pemantau hak asasi manusia melaporkan korban tewas akibat represi aparat mencapai ribuan orang. Angka pastinya bervariasi dan belum dapat diverifikasi secara independen karena pemblokiran internet nasional serta pembatasan akses komunikasi oleh pemerintah Iran. Sejumlah sumber menyebut korban jiwa melampaui 5.000 orang, meski data resmi dari Teheran tetap simpang siur akibat blackout informasi.
Meski demonstrasi dilaporkan mereda setelah penindasan keras, situasi di Iran masih tegang dengan ancaman sanksi tambahan dari Amerika Serikat serta potensi eskalasi regional. Pembatalan eksekusi yang diklaim Trump ini dipandang sebagai sinyal de-eskalasi sementara, meski kritik internasional terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Iran terus bergema.