WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keraguan atas kemampuan Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang digulingkan pada 1979, untuk meraih dukungan luas dari rakyat Iran jika terjadi perubahan kekuasaan di Teheran.
Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters di Ruang Oval, Gedung Putih, Rabu (14/1/2026) waktu setempat, Trump mengakui bahwa Pahlavi memiliki daya tarik secara personal. Namun, ia belum yakin apakah sosok tersebut akan diterima oleh masyarakat Iran.
“Dia tampak sangat baik, tetapi saya tidak tahu bagaimana dia akan diterima di negaranya sendiri,” ujar Trump, seperti dikutip Reuters, Kamis (15/1/2026). “Saya tidak tahu apakah negaranya akan menerima kepemimpinannya atau tidak, dan tentu saja jika mereka menerimanya, itu akan baik-baik saja bagi saya.”
Pernyataan ini muncul di tengah gelombang protes anti-pemerintah di Iran yang telah menewaskan ribuan orang akibat penindasan aparat keamanan. Trump sebelumnya kerap menyuarakan ancaman intervensi Amerika Serikat untuk mendukung para demonstran, namun belum memberikan dukungan penuh terhadap Pahlavi yang telah lama hidup di pengasingan di Amerika Serikat.
Reza Pahlavi (65), yang dikenal sebagai salah satu tokoh oposisi paling vokal terhadap rezim ulama di Teheran, menghadapi tantangan besar karena oposisi Iran masih terpecah dan belum memiliki struktur organisasi yang kuat di dalam negeri. Pekan lalu, Trump juga menyatakan tidak berencana bertemu dengan Pahlavi, yang semakin menambah ketidakpastian sikap Washington terhadap kelompok oposisi Iran.
Trump membuka peluang bahwa tekanan publik dapat meruntuhkan pemerintahan ulama di Iran. “Apakah itu jatuh atau tidak, itu akan menjadi periode waktu yang menarik,” katanya. Namun, ia menekankan bahwa “rezim mana pun dapat gagal.”
Wawancara tersebut juga menyinggung sejumlah isu global lainnya. Trump menilai Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebagai penghalang utama tercapainya kesepakatan damai dalam konflik Rusia–Ukraina.
“Putin siap membuat kesepakatan,” kata Trump. Saat ditanya siapa penghalangnya, ia menjawab singkat, “Zelensky.”
Di dalam negeri, Trump menepis kritik dari sejumlah anggota Partai Republik serta CEO JPMorgan, Jamie Dimon, terkait penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
“Saya tidak peduli. Mereka harus loyal,” ujarnya, merujuk pada anggota parlemen dari partainya sendiri. “Saya tidak peduli apa yang dia katakan,” tambahnya terkait komentar Dimon.
Di sisi lain, Trump mengonfirmasi rencana pertemuan dengan tokoh oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, di Gedung Putih. Ia memuji Machado sebagai “wanita yang sangat baik” dan menyatakan pembahasan akan mencakup “hal-hal mendasar” terkait situasi di Venezuela.
Komentar Trump mengenai Reza Pahlavi ini menambah dinamika kompleks hubungan Amerika Serikat dengan oposisi Iran, di tengah protes yang terus bergulir dan perhatian dunia internasional terhadap potensi perubahan rezim di Teheran.