TEHERAN, IRAN – Pemerintah Iran untuk pertama kalinya merilis angka korban tewas resmi dari gelombang protes nasional yang mengguncang negara tersebut sejak akhir Desember 2025.
Melalui siaran televisi pemerintah pada Rabu (21/1/2026), Kementerian Dalam Negeri bersama Yayasan Urusan Martir dan Veteran menyebutkan bahwa sebanyak 3.117 orang meninggal dunia selama rangkaian demonstrasi massal.
Dalam pernyataan resmi itu dijelaskan, dari total korban tewas, 2.427 orang merupakan warga sipil dan anggota pasukan keamanan. Namun, otoritas tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai ratusan korban lainnya.
Angka ini menjadi data resmi pertama yang dikeluarkan pemerintah sejak kerusuhan pecah pada 28 Desember 2025. Aksi protes awalnya dipicu oleh persoalan ekonomi, seperti anjloknya nilai mata uang dan tingginya biaya hidup, sebelum meluas menjadi tuntutan anti-pemerintah di seluruh 31 provinsi Iran.
Namun demikian, jumlah korban versi pemerintah jauh lebih rendah dibandingkan laporan kelompok hak asasi manusia di luar negeri. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 4.902 orang tewas hingga Kamis (22/1/2026) pagi, dengan ribuan kasus kematian lainnya masih dalam proses penyelidikan.
HRANA, yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki jaringan aktivis di dalam Iran, merinci bahwa korban tewas tersebut terdiri atas 4.622 demonstran, 201 anggota pasukan keamanan atau pemerintah, 40 anak di bawah usia 18 tahun, serta 39 warga sipil non-demonstran.
Selain itu, HRANA mencatat terdapat 9.387 kematian yang masih menunggu verifikasi, 7.389 orang mengalami luka berat, dan total penahanan mencapai 26.541 orang.
Laporan serupa dari kelompok hak asasi manusia lainnya juga menunjukkan angka korban yang lebih tinggi dibandingkan data resmi pemerintah. Associated Press menegaskan bahwa seluruh angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen akibat pembatasan informasi yang sangat ketat di Iran.
Kerusuhan ini disebut sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir di Iran, bahkan mengingatkan pada kekacauan saat Revolusi Islam 1979 yang melahirkan Republik Islam Iran.
Meski dalam beberapa hari terakhir demonstrasi dilaporkan mulai mereda, kekhawatiran akan bertambahnya korban jiwa masih tinggi. Sejak 8 Januari 2026, pemerintah memberlakukan pemadaman internet hampir total di seluruh negeri, sehingga arus informasi ke luar negeri terhambat dan banyak kematian baru diduga belum terdokumentasi.
Di sisi lain, para pejabat Iran juga memicu kekhawatiran serius terkait nasib ribuan tahanan. Pernyataan sejumlah otoritas mengindikasikan potensi eksekusi terhadap sebagian demonstran yang ditangkap, di tengah catatan Iran sebagai salah satu negara dengan tingkat eksekusi tertinggi di dunia.
Situasi ini terus memicu kecaman internasional atas penanganan keras terhadap aksi protes, sementara pemerintah di Teheran bersikukuh menyalahkan “kekuatan asing” dan “kelompok teroris” sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut.
