JAKARTA – Jakarta diperkirakan masih akan berada dalam kondisi cuaca basah dengan hujan berintensitas sedang hingga lebat yang berlanjut setidaknya sampai pekan depan berdasarkan analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
BMKG menjelaskan, pola hujan yang terus berulang ini dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Asia yang membawa massa udara basah dari daratan Asia menuju wilayah Indonesia bagian barat, termasuk Jakarta dan sekitarnya.
Prakirawan cuaca BMKG, Jatmiko, menyebut masuknya gelombang dingin dari Asia memperkuat pembentukan awan hujan yang bersifat luas dan persisten di wilayah Jabodetabek.
“Sampai minggu depan, masih ada potensi hujan sedang hingga lebat di sebagian besar Jakarta Raya,” ujar Jatmiko, Sabtu 24 Januari 2026.
Pemantauan BMKG menunjukkan Jakarta dan kawasan penyangga telah diguyur hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga ekstrem, selama sepuluh hari terakhir tanpa jeda signifikan.
Rekor curah hujan tertinggi tercatat pada 18 Januari 2026 dengan volume mencapai 267 milimeter per hari, angka yang masuk kategori ekstrem untuk wilayah perkotaan padat.
Pada Jumat, 23 Januari 2026, hingga pukul 15.00 WIB, curah hujan kembali menunjukkan angka tinggi dengan akumulasi mencapai 189 milimeter dalam satu hari.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena hujan berkepanjangan berpotensi memicu banjir, genangan luas, serta gangguan aktivitas harian.
Dampak lanjutan dari genangan dan banjir diperkirakan memicu kemacetan lalu lintas di sejumlah titik rawan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Sebagai langkah antisipasi terhadap cuaca ekstrem, sejumlah instansi pemerintah memberikan fleksibilitas kehadiran kerja bagi aparatur sipil negara melalui kebijakan bekerja dari rumah atau work from home.
“Mengingat dinamika atmosfer itu, cuaca ekstrem tidak hanya melanda Jakarta namun juga wilayah selatan Indonesia sampai minggu depan. Wilayah Selatan Indonesia adalah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.”***
