Dua kasus penarikan susu formula bayi yang melibatkan Nestlé dan Danone ternyata memiliki sumber yang sama. Badan Standar Pangan Inggris (UK Food Standards Agency/FSA) pada Senin mengonfirmasi bahwa kedua produk tersebut menggunakan bahan baku dari pemasok pihak ketiga yang sama, yakni perusahaan bioteknologi asal China, Cabio Biotech.
Bahan yang terkontaminasi adalah minyak asam arakidonat (arachidonic acid/ARA)—komponen penting dalam susu formula bayi—yang diketahui mengandung racun cereulide, toksin berbahaya yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus. Menurut FSA, temuan ini menjadi hasil utama dari penyelidikan yang masih berlangsung dan menjadi penyebab penarikan produk Nestlé SMA dan Danone Aptamil di berbagai negara.
Kontaminasi dari Sumber yang Sama
Kepala penanganan insiden FSA, Jodie Wild, menyatakan bahwa investigasi telah memastikan sumber kontaminasi berasal dari pemasok bahan baku yang sama.
“Penyelidikan yang sedang berlangsung mengidentifikasi bahwa kontaminasi berasal dari pemasok pihak ketiga yang digunakan bersama. Berdasarkan temuan ini, Danone melakukan penarikan satu batch produk Aptamil karena terdeteksi adanya cereulide,” ujar Wild.
FSA saat ini bekerja intensif bersama para produsen susu formula untuk melacak seluruh produk yang berpotensi menggunakan bahan baku tersebut dan memastikan penarikan dilakukan secara menyeluruh. Proses ini dilakukan melalui koordinasi dengan UK Health Security Agency, otoritas lokal, serta industri pangan, termasuk pengujian dan pengambilan sampel tambahan.
Produk yang Ditarik di Inggris
Di Inggris, penarikan mencakup Aptamil First Infant Formula 800 gram produksi Danone dengan tanggal kedaluwarsa 31 Oktober 2026.
Sementara itu, penarikan produk Nestlé yang diumumkan lebih awal pada 6 Januari melibatkan beberapa varian, antara lain:
-
SMA Advanced First Infant Milk
-
SMA Follow-On Milk
-
SMA Anti-Reflux
-
SMA Alfamino
-
SMA Comfort
Dampak Global dan Investigasi Kematian Bayi
Krisis ini telah meluas ke lebih dari 60 negara, memicu kekhawatiran global terkait keamanan susu formula bayi. Di Prancis, otoritas setempat tengah menyelidiki dua kasus kematian bayi yang dilaporkan sempat mengonsumsi susu formula Nestlé yang kemudian ditarik dari peredaran.
Seorang bayi berusia dua minggu meninggal dunia di Bordeaux pada 8 Januari, sementara bayi lainnya yang berusia 27 hari meninggal di Angers pada 23 Desember. Meski demikian, hingga kini belum ada bukti kausal langsung yang mengaitkan kematian tersebut dengan konsumsi susu formula yang terkontaminasi.
Nestlé menyatakan tetap bekerja sama penuh dengan otoritas terkait dan menegaskan bahwa tidak ada bukti yang menghubungkan produk mereka dengan kematian bayi-bayi tersebut. Di Belgia, otoritas kesehatan melaporkan seorang bayi sempat jatuh sakit setelah mengonsumsi susu formula yang terkontaminasi, namun pulih sepenuhnya dalam waktu sekitar 10 hari.
Selain Nestlé dan Danone, penarikan produk juga dilakukan oleh sejumlah produsen lain, termasuk Lactalis, Hochdorf Swiss Nutrition, dan Vitagermine. Lembaga advokasi konsumen Foodwatch International bahkan tengah menyiapkan langkah hukum terhadap Nestlé dan Lactalis, dengan tudingan bahwa penarikan produk dilakukan terlambat.
Sorotan pada Celah Regulasi
Kasus ini turut menyoroti kelemahan regulasi pangan internasional. Cereulide dikenal sebagai toksin yang tahan panas dan tidak dapat dihancurkan dengan air mendidih, sehingga berisiko tinggi bagi bayi.
Lebih lanjut, krisis ini mengungkap fakta bahwa Uni Eropa belum menetapkan ambang batas keamanan pangan khusus untuk cereulide dalam susu formula bayi, sebuah celah regulasi yang kini menjadi sorotan tajam.
FSA mengimbau para orang tua yang memiliki produk terdampak untuk segera menghentikan penggunaannya dan beralih ke susu formula alternatif. Orang tua yang mengkhawatirkan kondisi kesehatan bayinya disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter umum atau menghubungi layanan NHS 111.