Rekaman video terbaru yang telah diverifikasi mengungkap skala penindasan mematikan aparat Iran terhadap para demonstran, memperlihatkan gambaran yang jarang terlihat ke publik: jenazah menumpuk di rumah sakit, penembak jitu bersenjata ditempatkan di atap gedung, hingga upaya demonstran merusak kamera pengawas untuk menghindari identifikasi.
Kelompok hak asasi manusia menyebut peristiwa ini sebagai salah satu pembantaian paling berdarah dalam sejarah modern Iran.
BBC Verify mengautentikasi sejumlah video yang diyakini direkam pada 8–9 Januari, bertepatan dengan demonstrasi massal yang dipicu seruan Reza Pahlavi—putra mendiang Shah Iran—yang kini hidup di pengasingan.
Dalam rekaman tersebut terlihat setidaknya 31 jenazah menumpuk di kamar mayat Rumah Sakit Tehranpars di timur Teheran, sementara klip lain menunjukkan tujuh kantong jenazah tergeletak di luar pintu masuk rumah sakit.
Dugaan Kekerasan Terkoordinasi dan Termiliterisasi
Video-video itu muncul meski pemerintah memberlakukan pemadaman internet hampir total sejak 8 Januari. Rekaman dan kesaksian lapangan menggambarkan operasi keamanan yang terkoordinasi dan bersifat militer.
Dalam salah satu video, ratusan demonstran terlihat berkumpul di jalan tol di Teheran bagian barat sebelum suara tembakan dan teriakan terdengar. Rekaman terverifikasi dari Kerman dan Mashhad memperlihatkan pria bersenjata berpakaian militer menembaki demonstran dari jalanan, sementara penembak jitu terlihat menempati atap bangunan dengan senapan.
Di kawasan Tehranpars, satu video menunjukkan aparat keamanan menembak dari atap kantor polisi saat demonstran dan warga sipil berlarian menyelamatkan diri.
Amnesty International juga mendokumentasikan percakapan demonstran yang saling memperingatkan agar menyembunyikan ponsel. Dalam salah satu rekaman, terdengar suara berkata:
“Simpan ponselmu. Mereka akan menembak tanganmu. Ada penembak jitu di antara mereka.”
Angka Korban Jiwa Masih Diperdebatkan
Jumlah korban tewas hingga kini masih simpang siur, diperparah oleh pemadaman komunikasi yang telah memasuki hari ke-18.
Pemerintah Iran mengakui 3.117 kematian, dengan klaim bahwa sebagian besar korban adalah personel keamanan atau warga sipil yang tewas akibat ulah “perusuh”.
Namun, Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan telah mengonfirmasi setidaknya 6.126 kematian, termasuk 5.777 demonstran, 86 anak-anak, dan 214 anggota pasukan keamanan, serta lebih dari 41.800 penangkapan.
Sementara itu, Iran International, mengutip dokumen internal pemerintah, memperkirakan lebih dari 36.500 orang tewas hanya dalam dua hari, yakni 8–9 Januari—angka yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Pemadaman Internet Hambat Dokumentasi
Pemadaman internet yang dimulai pada pukul 20.00 waktu setempat, 8 Januari, menyebabkan sekitar 92 juta warga Iran terputus dari dunia luar. Meski demikian, sebagian warga masih berhasil mengirimkan rekaman singkat melalui layanan satelit Starlink dan jaringan VPN, meski otoritas disebut mengganggu sinyal GPS sehingga koneksi satelit kerap terputus.
BBC Verify mencatat aksi protes terjadi di setidaknya 71 kota dan kabupaten, meski jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar. Wakil Menteri Dalam Negeri Iran, Ali Akbar Pourjamshidian, mengklaim aparat keamanan menghadapi demonstrasi di lebih dari 400 kota.
Kecaman Internasional Menguat
Dewan Hak Asasi Manusia PBB telah mengeluarkan resolusi yang mengutuk pembunuhan massal tersebut. Pelapor Khusus PBB untuk Iran, Mai Sato, menyatakan sedikitnya 5.000 orang tewas hingga 16 Januari.
Sementara itu, Human Rights Watch mendesak negara-negara anggota PBB untuk segera menggelar sidang khusus guna membahas akuntabilitas dan dugaan pelanggaran berat hak asasi manusia oleh pemerintah Iran.