Wabah virus Nipah yang kembali muncul di negara bagian West Bengal, India, dengan lima kasus konfirmasi termasuk petugas kesehatan, telah memicu alarm global. Meski virus mematikan ini belum tercatat di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) langsung mengambil langkah proaktif untuk mencegah masuknya penyakit zoonosis ini ke tanah air.
Dengan tingkat kematian mencapai 40-75% dan belum adanya vaksin atau obat spesifik, Indonesia memprioritaskan pemantauan ketat, surveilans, dan edukasi masyarakat sebagai benteng utama pencegahan.
Kemenkes secara resmi menyatakan bahwa hingga 27 Januari 2026, belum ada kasus konfirmasi virus Nipah di Indonesia. Juru Bicara Kemenkes, dr. Widyawati, menegaskan bahwa pemantauan dilakukan secara intensif melalui kanal resmi WHO dan sistem media monitoring.
Sejak 13 Januari 2026, Kemenkes telah mengeluarkan peringatan dini melalui laman infeksiemerging.kemkes.go.id, mengingatkan risiko penularan dari pelaku perjalanan internasional, terutama dari wilayah endemik seperti India.
Langkah pencegahan utama yang diterapkan meliputi:
1. Pemantauan Pelaku Perjalanan Internasional
Kemenkes memperketat skrining di pintu masuk negara, khususnya bagi wisatawan atau WNI yang kembali dari India. Warga yang baru pulang dari daerah outbreak diminta melaporkan diri melalui aplikasi All Indonesia jika mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, batuk, mual, atau kebingungan. Jika bergejala, mereka diimbau segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
2. Surveilans dan Karantina Potensial
Sistem surveilans penyakit infeksi emerging diperkuat di bandara, pelabuhan, dan pos lintas batas. Meski belum menerapkan screening suhu tubuh massal seperti di Thailand atau Nepal, Indonesia fokus pada tracing kontak dan pemantauan mandiri bagi pelaku perjalanan berisiko tinggi.
Tenaga kesehatan di fasilitas rujukan juga dilatih ulang untuk mengenali gejala Nipah dan menggunakan APD standar guna mencegah penularan nosokomial.
3. Edukasi dan Pencegahan Risiko Lokal
Kemenkes mengimbau masyarakat menghindari konsumsi buah mentah atau air nira kurma yang terpapar kelelawar buah (reservoir utama virus), terutama di daerah dengan populasi kelelawar tinggi seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama dari Universitas YARSI menekankan pentingnya kewaspadaan karena Indonesia memiliki habitat serupa dengan negara endemik Nipah, sehingga risiko zoonosis tetap ada meski belum ada kasus manusia.
4. Koordinasi dengan Instansi Lain
Kemenkes bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk memantau hewan reservoir seperti kelelawar dan babi, serta dengan BPOM untuk pengawasan makanan impor yang berpotensi terkontaminasi. Edukasi publik melalui media sosial dan hotline kesehatan juga digalakkan agar masyarakat tidak panik namun tetap waspada.
Para ahli menilai upaya Indonesia saat ini cukup responsif mengingat risiko impor kasus rendah karena Nipah kurang menular antarmanusia dibandingkan virus pernapasan seperti COVID-19. Namun, tanpa vaksin, pencegahan dini melalui deteksi cepat dan isolasi menjadi kunci.
“Kewaspadaan mesti ditingkatkan tanpa menimbulkan kepanikan berlebih,” ujar dr. Widyawati.