JAKARTA — Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dinilai mencerminkan adaptasi kelembagaan bank sentral terhadap dinamika ekonomi global yang semakin kompleks. Fragmentasi global, meningkatnya tensi geopolitik, serta volatilitas arus modal internasional membuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal menjadi semakin krusial.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai perubahan lanskap global menuntut peran bank sentral yang lebih strategis dan terintegrasi dengan kebijakan ekonomi nasional.
“Selama puluhan tahun, kita membayangkan bank sentral sebagai menara gading, independen, steril, dan terpisah dari dinamika kekuasaan, dengan inflasi sebagai satu-satunya kompas kebijakan. Namun dunia telah berubah. Globalisasi semakin terfragmentasi, geopolitik kini menentukan arus modal, dan kebijakan fiskal serta moneter tidak lagi bisa berjalan sendiri,” ujar Fakhrul.
Menurutnya, latar belakang Thomas Djiwandono sebagai mantan wakil menteri keuangan tidak seharusnya dibaca sebagai politisasi bank sentral, melainkan sebagai respons institusional terhadap tuntutan zaman.
“Dalam konteks inilah terpilihnya Thomas Djiwandono dengan latar belakang kebijakan fiskal sebelumnya seharusnya dipahami sebagai adaptasi terhadap era yang menuntut koordinasi, strategi, dan penguatan ketahanan ekonomi nasional. Tantangan hari ini bukan hanya menjaga inflasi tetap rendah, tetapi juga memastikan stabilitas makroekonomi yang mampu menopang pertumbuhan jangka panjang. Kita butuh Pengalaman Fiskal untuk membantu Moneter, lalu selanjutnya juga pengalaman Moneter untuk membantu di fiskal,” jelasnya.
Dalam jangka pendek, penguatan nilai tukar rupiah ke level Rp16.700 dianggap menandai berakhirnya tekanan pasar. Thomas Djiwandono, dalam rapat dengan DPR, telah menyampaikan strategi utama bertajuk Gerak, yang mencakup penguatan tata kelola kebijakan, peningkatan efektivitas, penguatan resiliensi sistem keuangan, akselerasi sinergi fiskal-moneter, serta keberlanjutan transformasi sektor keuangan.
Fakhrul menambahkan, pengalaman lintas kebijakan menjadi semakin penting di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan, stabilitas nilai tukar, dan pengelolaan risiko global.
“Ke depan, sinergi moneter dan fiskal akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Dunia pasca-pandemi telah menunjukkan bahwa stabilitas tanpa pertumbuhan bukanlah sebuah kemenangan. Bank sentral perlu tetap kredibel, namun juga relevan dan adaptif terhadap realitas baru ekonomi global,” tutupnya.