JAKARTA – Di tengah tekanan global yang kian kompleks, Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia dinilai tetap terjaga sepanjang triwulan IV 2025 berkat sinergi kuat kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan yang dikawal Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
KSSK menegaskan koordinasi lintas otoritas menjadi kunci utama menjaga ketahanan ekonomi nasional saat ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik dan perang dagang, terus membayangi pasar keuangan internasional.
Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan, Purbaya Yudi Sadewa, menyampaikan bahwa kewaspadaan kebijakan diperkuat sejak awal 2026 seiring meningkatnya volatilitas pasar global yang dipicu eskalasi tensi geopolitik dan kebijakan perdagangan dunia.
“Memasuki Januari 2026, volatilitas pasar keuangan global meningkat karena tensi geopolitik dan perang dagang,” ujarnya.
Dalam struktur kelembagaannya, KSSK beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, serta Ketua Dewan Komisioner LPS yang secara rutin menggelar rapat triwulanan untuk memantau stabilitas sistem keuangan nasional.
KSSK menilai ketidakpastian global masih berlanjut pada 2026, terutama akibat dampak lanjutan kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan pasar dunia.
Selain faktor tarif, kerentanan rantai pasok global akibat konflik geopolitik diproyeksikan turut menekan laju pertumbuhan ekonomi dunia sepanjang tahun ini.
Meski demikian, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap resilien dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5,4 persen pada 2026, ditopang permintaan domestik dan stabilitas sektor keuangan.
Dari sisi kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan melalui pelonggaran likuiditas serta penguatan intermediasi perbankan.
BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendorong ekspansi ekonomi nasional.
Hingga Desember 2025, pertumbuhan kredit tercatat mencapai 9,6 persen secara tahunan dengan total penyaluran sekitar Rp8.585 triliun, mencerminkan kinerja intermediasi yang tetap sehat.
“Kredit investasi tumbuh paling tinggi sebesar 20,81 persen,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo.
Selain kredit investasi, kredit konsumsi juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 6,58 persen, menandakan daya beli masyarakat yang relatif terjaga.
Ke depan, KSSK menegaskan komitmen memperkuat kewaspadaan serta respons kebijakan yang terkoordinasi guna memitigasi risiko terhadap perekonomian dan stabilitas sistem keuangan.
“KSSK juga berkomitmen mendukung sektor riil dan program Asta Cita pemerintah guna mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” katanya.
Rapat KSSK menegaskan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan global.***