JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup selama empat jam dengan sejumlah tokoh nasional yang kerap disebut sebagai pihak oposisi, Jumat (30/1/2026) malam, di kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.
Pertemuan tersebut berlangsung atas undangan langsung dari Presiden Prabowo yang disampaikan melalui Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Agenda diskusi mencakup berbagai isu strategis nasional, mulai dari pengelolaan sumber daya alam hingga upaya pemberantasan korupsi dan reformasi institusi penegak hukum.
Eks Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, salah satu peserta yang hadir, mengonfirmasi kebenaran pertemuan tersebut.
“Benar sekali,” kata Samad ketika dikonfirmasi Republika soal adanya pertemuan dengan Prabowo pada Sabtu malam.
Menurut Samad, sekitar tujuh tokoh nasional turut diundang, di samping beberapa menteri Kabinet Merah Putih. Di antara nama yang ia ingat adalah Peneliti Utama Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Profesor Siti Zuhro serta mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu.
“Saya agak lupa berapa orang, mungkin sekitar tujuh atau apa, saya agak lupa. Ada Profesor Siti Zuhro,” kata dia.
Diskusi berlangsung dari pukul 17.00 hingga 21.00 WIB, dengan suasana yang dinilai santai dan cair. Prabowo banyak berbagi cerita, bercanda, serta menampilkan senyum dan tawa lepas sepanjang sesi.
“Pak Prabowo lebih banyak senyum, tertawa lepas,” ujar Samad.
Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo menyampaikan presentasi mengenai berbagai hal, termasuk hasil kunjungannya ke Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, baru-baru ini. Ia juga secara terbuka meminta masukan langsung dari para hadirin.
Samad, sebagai mantan pimpinan KPK, menyampaikan pandangannya terkait peningkatan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang kini berada di angka 37. Prabowo menegaskan komitmen kuat untuk terus memberantas korupsi secara konsisten.
“Pak Prabowo juga menyampaikan bahwa dia tidak main-main dalam menghadapi oligarki. Dia tidak takut begitu. Dia sampaikan, siapa pun oligarki yang merusak akan dihadapi,” ungkap Samad.
Selain itu, Prabowo menyatakan akan melakukan reformasi kepolisian serta penyelamatan sumber daya alam. Ia juga menekankan sikap terbuka terhadap kritik, yang dipandang sebagai bentuk pengingat bagi pemerintah.
Samad sendiri menolak label “oposisi” yang disematkan pada dirinya dan peserta lain.
“Jadi saya enggak tahu apakah undang itu kepada tokoh oposisi, saya nggak tahu persis itu. Yang jelas saya diundang. Undangannya itu melalui Pak Sjafrie Sjamsoeddin, saya diundang,” kata Samad.
Kabar pertemuan ini pertama kali diungkapkan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin saat berpidato dalam Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Pusat Kompetensi Bela Negara BPSDM Kemenhan, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).
“Tadi malam Bapak Presiden bertemu tokoh-tokoh nasional dalam tanda kutip oposisi,” ucap Sjafrie, Sabtu.
Pertemuan ini turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi, antara lain Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Mayjen TNI (Purn) Zacky Anwar Makarim.
Langkah Presiden Prabowo ini dinilai sebagai upaya membuka ruang dialog lintas kelompok untuk memperkuat konsolidasi nasional di awal masa kepemimpinannya.