BOGOR – Presiden Prabowo Subianto secara resmi menaikkan isu kebersihan lingkungan sebagai agenda strategis nasional dengan menempatkan persoalan sampah sebagai ancaman langsung bagi pariwisata, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekonomi Indonesia.
Penegasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026), dengan menyoroti Bali sebagai tolok ukur citra Indonesia di mata wisatawan dunia.
Dalam arahannya, Presiden mengeluarkan instruksi tegas agar seluruh kementerian, lembaga, dan BUMN menyediakan waktu khusus sebelum jam kerja untuk membersihkan lingkungan kantor masing-masing.
“Danantara, semua BUMN, ribuan anak buahnya, korvey.”
“Saya tidak mau lihat plastik atau sampah di sekitar kantor-kantor BUMN.”
“Semua Menteri K/L, sebelum masuk kantor, minimal setengah jam bersihkan lingkunganmu.”
“Sebelum masuk kantor, minimal setengah jam bersihkan lingkungan mu, kalau perlu menterinya memimpin,” tegas Presiden Prabowo.
Prabowo menekankan bahwa kebijakan 30 menit bersih lingkungan bukan sekadar simbol, melainkan langkah konkret untuk melindungi rakyat dari risiko penyakit dan bencana lingkungan.
“Kita ini sekarang harus menyatakan, perang terhadap sampah.”
Pariwisata Bali Jadi Sorotan
Presiden menilai keindahan alam Indonesia akan kehilangan daya tarik jika kawasan wisata unggulan justru dipenuhi sampah yang mencoreng kenyamanan dan reputasi bangsa.
“Indonesia indah, dia mau datang, lihat kumuh. Dia mau ke Bali, pantai Bali kotor,” ucap Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Prabowo mengungkapkan kondisi pengelolaan sampah nasional telah memasuki fase darurat karena hampir seluruh tempat pembuangan akhir diperkirakan mencapai kapasitas maksimum paling lambat pada 2028.
Sebagai langkah struktural, pemerintah menyiapkan pembangunan 34 proyek waste to energy di 34 kota yang akan segera memasuki tahap peletakan batu pertama dan ditargetkan beroperasi penuh dalam dua tahun.
Nilai investasi proyek pengolahan sampah menjadi energi tersebut mencapai hampir USD 3,5 miliar dan dirancang untuk mengakhiri ketergantungan pada sistem TPA konvensional.
Presiden juga mendorong pemerintah daerah untuk aktif berinovasi dengan meniru pola pengelolaan sampah yang telah terbukti efektif di daerah lain.
Menurut Prabowo, penanganan sampah tidak boleh ditunda karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat dan ketahanan sektor pariwisata nasional.
Ia menegaskan bahwa pariwisata merupakan sektor paling cepat menyerap tenaga kerja dan paling efisien dari sisi biaya, namun sangat rapuh jika lingkungan diabaikan.
Presiden mengaku menerima kritik langsung dari tokoh internasional terkait kondisi Bali yang dinilai semakin kotor dan tidak terawat.
“Saya di Korea ketemu tokoh-tokoh di Korea, menteri-menteri, jenderal-jenderal, kadang-kadang ya tentara di mana pun dia nggak basa-basi.”
“Dia ngomong ke saya ‘Your excellency, I just came from Bali. Bali so dirty now. Bali not nice’. Ah saya, tapi saya terima itu sebagai koreksi,” ucap Prabowo.
Presiden bahkan menampilkan dokumentasi kondisi pantai Bali pada Desember 2025 sebagai bukti nyata krisis sampah yang tidak lagi bisa disangkal.
“Ini pantai Bali, bagaimana turis mau datang ke situ lihat sampah?” ucapnya.
Prabowo meminta kepala daerah mengoptimalkan kewenangan dengan menggerakkan sekolah-sekolah untuk melakukan kerja bakti rutin di pantai dan ruang publik.
“SMA, SMP, SD di Bawah kendali saudara, apa susahnya sih. Entah hari sabtu jumat. Semua anak sekolah, kumpul di pantai ini. Ini pantai kita,ini halaman kita. Ayo kita bersihkan rame-rame, korvey,” tegas Presiden.
Jika pemerintah daerah tidak bergerak cepat, Presiden menyatakan akan melibatkan langsung TNI dan Polri dalam kegiatan kerja bakti kebersihan.
“Apa salahnya! Kalau bupati dan gubernur tidak bisa saya perintah, dandim, danrem, saya perintahkan kau gerakkan anak buahmu korve (kerja bakti), tiap hari atau tiap berapa hari, korve, korve, korve. Kepolisian, kerahkan, korve, korve, korve,” ucapnya.
Presiden menutup arahannya dengan menegaskan bahwa pariwisata Indonesia tidak akan mampu bersaing secara global jika persoalan sampah terus dibiarkan.***