Pasar emas dan perak mengalami salah satu aksi jual paling brutal dalam beberapa dekade terakhir setelah harga kedua logam mulia tersebut terjun bebas selama tiga hari berturut-turut.
Perak mencatat penurunan harian terdalam sejak 1980, sementara emas mengalami kejatuhan paling tajam dalam lebih dari satu dekade. Gelombang kejatuhan ini diperkirakan telah menghapus nilai pasar lebih dari US$4 triliun, mengguncang stabilitas pasar keuangan global.
Pada Kamis (30/1), harga perak anjlok hingga 37 persen, runtuh dari rekor tertinggi di atas US$121 per ons ke bawah US$80 per ons. Emas turut terseret, turun sekitar 9 persen dari puncak tertinggi sepanjang masa mendekati US$5.595 per ons ke kisaran US$4.600 per ons.
Intensitas kepanikan tercermin dari lonjakan aktivitas perdagangan, di mana iShares Silver Trust mencatat omzet lebih dari US$40 miliar dalam satu hari, menjadikannya salah satu sekuritas paling aktif diperdagangkan di dunia.
Efek Nominasi Kevin Warsh
Aksi jual dipicu oleh laporan pada Kamis malam yang menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang.
Warsh dikenal sebagai tokoh dengan pandangan kebijakan moneter hawkish, yang dipersepsikan pasar sebagai sinyal kuat bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama.
Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus menghantam daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.
“Ini adalah situasi paling kacau yang pernah saya lihat sepanjang karier saya,” ujar Dominik Sperzel, Head of Trading di Heraeus Precious Metals. “Emas melambangkan stabilitas, tetapi pergerakan sekeras ini justru menunjukkan hal sebaliknya.”
Tekanan semakin membesar setelah CME Group menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka logam mulia sebanyak dua kali dalam tiga hari. Margin emas dinaikkan dari 6 persen menjadi 8 persen, sementara margin perak melonjak dari 11 persen menjadi 15 persen. Kenaikan ini memaksa para trader berleverage tinggi—sebagian menggunakan leverage hingga 50x–100x—melakukan likuidasi besar-besaran.
Spekulasi China Berbalik Arah
Sebelum kejatuhan, reli harga logam mulia didorong oleh derasnya aliran dana spekulatif dari China yang membuat harga terlepas dari fundamental. Namun, ketika dolar menguat pasca-berita nominasi Warsh, investor China berbalik mengambil untung, memicu gelombang jual lanjutan.
“China menjual, dan sekarang kita merasakan dampaknya,” kata John Campbell, Head of Trading Doris Campbell & Associates.
Sementara itu, Nicky Shiels, Kepala Strategi Logam MKS PAMP SA, menyebut Januari 2026 sebagai “bulan paling volatil dalam sejarah logam mulia.”
Tanda Awal Stabilisasi
Memasuki awal pekan ini, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi awal. Harga emas bergerak mendekati US$4.600 per ons, sementara perak bertahan di sekitar US$80 per ons, meski volatilitas masih tinggi.
Menariknya, analis mencatat jurang perbedaan yang tajam antara pasar derivatif dan pasar fisik. Saat harga berjangka runtuh, perak fisik di Shanghai dan Dubai justru diperdagangkan dengan premi hingga US$20 di atas harga spot Barat.
Bahkan, U.S. Mint menaikkan harga koin Silver Eagles dari US$91 menjadi US$169 per keping selama periode kejatuhan tersebut.
“Pencalonan Warsh mungkin menjadi pemicu awal, tetapi tidak cukup menjelaskan skala kejatuhan ini,” ujar Tim Waterer, Kepala Analis Perdagangan KCM. “Likuidasi paksa dan kenaikan margin menciptakan efek domino yang memperbesar tekanan pasar.”