JAKARTA – Dana asing mulai mengalir kembali ke pasar modal Indonesia pada Senin (2/2/2026) setelah gejolak tiga hari perdagangan yang memicu keluarnya modal asing senilai Rp12,75 triliun dari Bursa Efek Indonesia. Pada sesi pertama perdagangan hari ini, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp577,4 miliar, memberikan sinyal awal pemulihan kepercayaan di tengah tekanan pasar yang berlanjut.
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 5,31 persen atau 442,44 poin ke level 7.887,16 pada akhir sesi pertama, dengan sebanyak 750 saham turun dan hanya 68 saham naik. Kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp14.177 triliun. Meski indeks masih tertekan, investor asing tercatat melakukan aksi beli saham senilai Rp5,7 triliun dan jual Rp5,1 triliun.
Pemicu Gejolak Pasar
Kejatuhan pasar saham dipicu oleh pengumuman MSCI pada 27 Januari 2026 yang memberlakukan pembekuan sementara (interim freeze) pada rebalancing indeks untuk saham Indonesia pada periode Februari 2026. Keputusan ini terkait kekhawatiran mengenai transparansi data free float pasar saham Indonesia.
Pada Rabu (28/1/2026), IHSG ambruk 7,35 persen ke level 8.320,56 dengan arus modal asing keluar mencapai Rp6,12 triliun dalam satu hari. Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1/2026) dengan net sell asing Rp5,10 triliun, membawa total keluarnya modal asing dalam dua hari menjadi Rp11,22 triliun.
Gejolak ini juga memicu pengunduran diri sejumlah pejabat tinggi. Direktur Utama BEI Iman Rachman mengundurkan diri pada Jumat (30/1/2026) sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar. Di malam harinya, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar bersama tiga pejabat OJK lainnya juga mengumumkan pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Pasar Obligasi Turut Tertekan
Dampak kejatuhan pasar saham meluas ke instrumen obligasi pemerintah. Menurut data DJPPR Kemenkeu, investor asing membukukan jual bersih senilai Rp3,3 triliun pada Rabu (28/1/2026) dan melanjutkan net sell Rp8 miliar pada Kamis (29/1/2026). Arus keluar ini merupakan yang terbesar selama dua hari berturut-turut sejak Oktober 2025.
Bank Indonesia mencatat aliran modal asing keluar dari pasar keuangan domestik mencapai Rp12,55 triliun sepanjang 26-29 Januari 2026, dengan rincian Rp12,40 triliun dari pasar saham dan Rp2,77 triliun dari surat berharga negara.
Upaya Pemulihan
Pada Senin sore (2/2/2026), OJK dan BEI melangsungkan pertemuan daring dengan MSCI untuk membahas rencana reformasi pasar modal Indonesia, termasuk peningkatan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir yang hadir di Gedung BEI menyatakan bahwa krisis kepercayaan ini perlu dipandang sebagai momentum untuk melakukan reformasi pasar modal secara menyeluruh. “Ini bukan sekadar persoalan satu atau dua saham, melainkan menyangkut kepercayaan terhadap sistem pasar modal nasional dan kredibilitas negara,” ujarnya. Pandu mengungkapkan Danantara telah mulai aktif membeli saham-saham dengan valuasi menarik dan fundamental kuat pada perdagangan hari ini.