Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kembali menjadi perbincangan nasional. Objek wisata ikonik yang selama puluhan tahun menyala tanpa henti ini dilaporkan padam total sejak awal Januari 2026.
Fenomena ini mengejutkan wisatawan, warga sekitar, dan pemerintah daerah karena api tersebut telah menjadi simbol sejarah, budaya, bahkan pernah digunakan sebagai sumber api obor Asian Games 2018 dan upacara Waisak.
Sejarah Singkat Api Abadi Mrapen
Api Abadi Mrapen berasal dari fenomena geologi alamiah: kebocoran gas metana (gas rawa) dari dalam bumi yang terus-menerus menyembur dan terbakar secara alami. Menurut cerita masyarakat setempat, api ini sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga (abad ke-15), yang konon pernah menggunakan nyala api tersebut untuk menerangi perjalanan dakwahnya.
Sejak itu, lokasi ini diberi nama “Mrapen” (dari kata “merapen” yang berarti menyala terus-menerus). Selama ratusan tahun, api ini tidak pernah padam secara permanen—hingga beberapa kejadian di era modern.
Riwayat Padamnya Api Mrapen
- September–Oktober 2020: Api padam total untuk pertama kalinya dalam sejarah modern. Penyebab utama diduga karena kebocoran gas halus di beberapa titik akibat aktivitas pengeboran di sekitar lokasi. Setelah penanganan oleh Dinas ESDM Jawa Tengah, api berhasil dinyalakan kembali pada April 2021.
- Akhir 2025 – Januari 2026: Api mulai menunjukkan tanda-tanda melemah sejak akhir Desember 2025. Pada 28 Desember 2025, pengelola sudah melaporkan bahwa nyala api semakin kecil. Puncaknya, awal Januari 2026 api padam sepenuhnya.
Penyebab Utama Padamnya Api (Versi Terbaru)
Menurut pengelola lokasi dan penjelasan awal dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, padamnya api bukan karena gas habis, melainkan karena saluran gas alami tersumbat oleh lumpur. Lumpur ini diduga menyumbat jalur aliran gas metana dari dalam bumi menuju titik pembakaran utama.
Beberapa poin penting dari analisis awal:
- Sumber gas rawa masih ada dan melimpah di bawah tanah.
- Penyumbatan terjadi di pipa alami atau rekahan tanah yang menjadi jalur keluar gas.
- Tidak ada indikasi kuat bahwa aktivitas pengeboran baru menjadi penyebab utama (berbeda dengan kasus 2020).
Wisatawan Kecewa
Banyak wisatawan yang datang dari jauh kecewa berat saat melihat api tidak menyala. Lokasi yang biasanya ramai dengan orang yang berfoto, membuat sesaji, atau sekadar menikmati keajaiban alam, kini terasa sepi dan kurang magis.
Beberapa pengunjung bahkan merekam video dan mengunggahnya ke media sosial dengan caption kecewa seperti “Datang jauh-jauh, eh apinya mati”. Pengelola wisata setempat sementara menutup akses penuh ke area utama sambil menunggu penanganan teknis.
Upaya Penyelamatan dan Rencana ke Depan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas ESDM telah turun tangan melakukan pengecekan lapangan. Beberapa langkah yang sedang dipersiapkan:
- Membersihkan sumbatan lumpur pada saluran gas.
- Mereorientasi aliran gas agar kembali menuju titik api utama.
- Melakukan pengeboran kecil atau rekayasa teknis untuk mengembalikan suplai gas (jika diperlukan).
Beberapa sumber menyebutkan bahwa api diharapkan bisa dinyalakan kembali dalam waktu 1–2 minggu jika tidak ada kendala teknis besar. Namun hingga awal Februari 2026, api masih belum menyala kembali.
