Mantan pembalap Red Bull Racing, Yuki Tsunoda, mengumumkan rencana peluncuran memoar pribadinya bertajuk “YUKI”, yang dijadwalkan terbit pada 20 Februari 2026. Buku ini disebut akan menghadirkan sudut pandang yang belum pernah terungkap mengenai perjalanan kariernya di Formula 1, menyusul kepergiannya dari posisi pembalap penuh waktu di tim papan atas tersebut.
Pembalap asal Jepang berusia 25 tahun itu membagikan pengumuman tersebut melalui akun media sosialnya, disertai sejumlah foto dari sesi pemotretan terbaru. Tsunoda menyebut memoar ini akan berisi cerita personal dan percakapan internal yang selama ini tidak diketahui publik.
“Sedang dalam proses. Buku pribadi saya akan dirilis pada 20 Februari 2026,” tulis Tsunoda. “Isinya penuh dengan berbagai cerita, termasuk percakapan yang biasanya tidak pernah terdengar dan sisi diri saya yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.”
Sejumlah laporan menyebutkan, buku tersebut juga memuat wawancara eksklusif yang dilakukan segera setelah berakhirnya musim Formula 1 2025, menjadikannya catatan reflektif di momen krusial dalam karier Tsunoda.
Dari Promosi Mendadak hingga Kehilangan Kursi
Pengumuman memoar ini datang di tengah fase transisi besar dalam karier Tsunoda, yang menandai berakhirnya lima musim penuh dinamika bersama keluarga Red Bull. Ia sempat dipromosikan dari Racing Bulls ke tim utama Red Bull Racing menjelang Grand Prix Jepang 2025, menggantikan Liam Lawson yang mengalami awal musim sulit.
Namun, kesempatan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus. Tsunoda kesulitan menyamai performa rekan setimnya, Max Verstappen, dalam mobil Red Bull yang dikenal sangat menuntut gaya mengemudi presisi tinggi.
“Tentu saja saya kecewa dan sangat kesal,” ujar Tsunoda, mengenang momen ketika dirinya diberi tahu oleh penasihat Red Bull Helmut Marko usai Grand Prix Qatar bahwa ia tidak akan turun sebagai pembalap balapan pada musim berikutnya. “Saya diberitahu secara langsung bahwa saya tidak akan balapan tahun depan.”
Tsunoda menutup musim 2025 di posisi ke-17 klasemen pembalap dengan raihan 33 poin, dengan hasil terbaik finis keenam di Grand Prix Azerbaijan. Kursinya kemudian diisi oleh Isack Hadjar, yang tampil impresif sepanjang musim rookie bersama Racing Bulls, termasuk meraih podium di Grand Prix Belanda.
Peran Cadangan dan Dinamika Honda
Meski tak lagi menjadi pembalap utama, Tsunoda dipastikan tetap menjadi bagian dari struktur Red Bull Racing dan Racing Bulls sebagai pembalap tes dan cadangan untuk musim 2026.
Di sisi lain, masa depannya turut dipengaruhi dinamika antara Red Bull dan Honda, pabrikan yang telah mendukung Tsunoda melalui Formula Dream Project sejak 2016. Presiden Honda Racing Corporation, Koji Watanabe, mengakui situasi kontrak Tsunoda masih dalam tahap negosiasi.
“Negosiasi masih berlangsung, jadi belum ada kesepakatan spesifik,” ujar Watanabe. “Dari sisi Honda tidak ada masalah, tetapi poin krusialnya adalah bagaimana Red Bull—atau Ford ke depannya—melihat peran Tsunoda.”
Menurut Watanabe, pembicaraan dilakukan langsung dengan Red Bull, bukan dengan Tsunoda, karena statusnya sebagai pembalap cadangan dapat memengaruhi arah pemanfaatannya di masa depan.
F1 yang Tak Pernah Menunggu
Situasi Tsunoda juga menarik perhatian mantan pembalap Formula 1, Juan Pablo Montoya, yang menyoroti kerasnya dunia balap jet darat.
“Begitu Anda kehilangan kursi, Anda bisa langsung menghilang dari radar. Formula 1 itu kejam,” ujar Montoya.
Meski demikian, Tsunoda disebut masih menyimpan ambisi kembali ke grid Formula 1. Ia dilaporkan menargetkan Haas dan Alpine sebagai opsi potensial untuk comeback pada musim 2027.
