Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November 2025 menyebabkan perubahan signifikan pada aliran sungai, termasuk pembelokan dan pelebaran alur air yang memicu luapan ke permukiman warga. Untuk mengembalikan fungsi sungai sekaligus mencegah banjir susulan, TNI Angkatan Darat melakukan upaya pemindahan dan normalisasi aliran sungai di berbagai titik terdampak.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (3/2), TNI mengerahkan buldoser perayap (crawler dozer) tipe D9T di aliran sungai Desa Jambak, Kecamatan Pante Cermin, Kabupaten Aceh Barat. Alat berat tersebut digunakan untuk memindahkan dan meratakan material tanah di sekitar sungai agar aliran air kembali ke jalur semula dan tidak lagi meluap ke kawasan permukiman.
Selain buldoser, eksavator juga diturunkan untuk menggali parit, mengeruk dasar sungai, memindahkan bebatuan, serta membangun tanggul penahan guna mengendalikan debit air. Di wilayah yang sama, ekskavator turut difungsikan untuk membuka akses jalan yang sebelumnya tertutup material longsor akibat banjir.
Upaya serupa dilakukan di Desa Kubu, Kecamatan Keusangan Siblah Kreung, Kabupaten Bireuen. Buldoser perayap dan ekskavator dikerahkan untuk membersihkan sisa lumpur dan material banjir. Buldoser digunakan untuk melakukan pengerasan tanah sebagai pemisah antara ruas jalan dan aliran sungai, sementara ekskavator mengangkut material tanah yang menghambat akses jalan.
Di Desa Tansaran, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, personel TNI melakukan pembersihan jalan secara manual menggunakan sekop dan gerobak sorong guna mempercepat pemulihan akses warga.
Kegiatan pembuatan parit dan pembukaan jalan juga berlangsung di Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. Material tanah yang masih menumpuk terus dibersihkan dengan bantuan alat berat agar ruas jalan kembali dapat dilalui.
Sementara itu, di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, pembersihan jalan dari lumpur dan material kayu dilakukan dengan mengerahkan ekskavator untuk mengangkut tanah dan potongan kayu yang menutup badan jalan.
Langkah terpadu yang dilakukan TNI ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan infrastruktur dan aksesibilitas masyarakat di wilayah Aceh yang terdampak banjir, sekaligus untuk meminimalkan risiko bencana lanjutan.
