JAKARTA – Serangan udara Israel di Gaza menewaskan sedikitnya 20 warga Palestina pada Rabu (4/2/2026), sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut pejabat rumah sakit setempat. Israel juga menghentikan sementara lalu lintas pasien melalui perbatasan Rafah di tengah tuduhan perlakuan buruk terhdap warga yang menyeberang.
Militer Israel menyatakan serangan tersebut sebagai respons atas serangan militan yang melukai seorang tentara. Dari korban tewas, tercatat lima anak termasuk bayi berusia 5 bulan dan 10 hari, tujuh perempuan, serta seorang paramedis. Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan lebih dari 530 warga Palestina meninggal sejak gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
“Perang genosida terhadap rakyat kami di Jalur Gaza terus berlanjut. Di mana gencatan senjatanya? Di mana para mediatornya?” tulis Dr. Mohamed Abu Selmiya, Direktur Rumah Sakit Shifa, dalam unggahan di Facebook, dilansir dari Hurriyet Daily News.
Sementara itu, pembukaan kembali perlintasan Rafah yang diharapkan membawa kelegaan justru menimbulkan kontroversi. Tiga perempuan yang kembali ke Gaza pada 2 Februari mengaku kepada Associated Press bahwa mereka diborgol, ditutup matanya, diinterogasi, dan diancam oleh pasukan Israel sebelum dibebaskan. Mereka termasuk dalam rombongan 12 warga Palestina — mayoritas perempuan, anak-anak, dan lansia — yang diizinkan menyeberang untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.
Salah seorang warga, Rotana al-Regeb, menceritakan bahwa ia bersama ibunya, Huda Abu Abed, dipaksa turun dari bus di pos pemeriksaan militer Israel. Ia mengaku menemukan ibunya berlutut di lantai dengan mata tertutup dan tangan diborgol di belakang punggung.
