JAKARTA — Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan dan Cortina d’Ampezzo, Italia, akan segera dimulai pada 6 Februari mendatang. Ajang olahraga bergengsi ini bakal mempertandingkan berbagai cabang olahraga di atas salju dan es, dengan diikuti lebih dari 90 negara. Sayangnya, Indonesia absen dari olimpiade musim dingin kali ini, seperti yang sudah menjadi pola sejak Olimpiade Musim Dingin pertama digelar puluhan tahun lalu.
Negara beriklim tropis seperti Indonesia memang menghadapi banyak tantangan untuk berpartisipasi di event ini. Meski begitu, Indonesia absen dari Olimpiade Musim Dingin 2026 bukan berarti tidak ada harapan ke depan.
Berikut lima alasan utama mengapa Indonesia absen dari Olimpiade Musim Dingin selama ini:
1. Iklim Tropis Tanpa Salju Alami
Indonesia absen dari Olimpiade Musim Dingin karena berada di garis khatulistiwa dengan iklim tropis sepanjang tahun. Suhu rata-rata di atas 25 derajat Celsius membuat negara ini tidak memiliki salju alami atau pegunungan bersalju yang cocok untuk latihan cabang olahraga musim dingin seperti ski alpin atau snowboarding.
Berbeda dengan negara tuan rumah Italia yang memiliki Pegunungan Alpen, Indonesia tidak punya venue alami untuk pembinaan atlet. Pelatihan harus dilakukan di luar negeri, yang membutuhkan biaya besar dan waktu panjang. Faktor ini menjadi penghalang utama bagi banyak negara tropis, termasuk Indonesia yang hingga kini belum berhasil mengatasi kendala dasar tersebut.
2. Keterbatasan Infrastruktur dan Fasilitas
Meskipun beberapa cabang seperti figure skating atau short track speed skating bisa dilatih di ice rink dalam ruangan, fasilitas semacam itu di Indonesia masih sangat terbatas. Beberapa mal besar di Jakarta dan kota lain memiliki arena es rekreasi, tapi belum memenuhi standar internasional untuk latihan kompetitif.
Biaya pembangunan dan pemeliharaan fasilitas olahraga es juga mahal, apalagi dengan konsumsi energi tinggi untuk menjaga suhu rendah. Prioritas pembangunan olahraga nasional masih tertuju pada cabang musim panas yang lebih sesuai dengan kondisi geografis Indonesia, seperti bulutangkis, angkat besi, atau panjat tebing. Hal ini membuat Indonesia absen dari olimpiade musim dinging 2026
3. Tantangan Adaptasi dan Kualifikasi Atlet
Atlet dari negara tropis harus beradaptasi dengan suhu ekstrem di bawah nol derajat serta ketinggian venue di pegunungan. Proses ini tidak mudah dan berisiko cedera jika tidak didukung program latihan jangka panjang.
Selain itu, sistem kualifikasi Olimpiade Musim Dingin sangat ketat. Atlet harus mencapai poin minimum dari Federasi Internasional Ski dan Seluncur Es (FIS) melalui kompetisi resmi. Indonesia baru mulai membina atlet di cabang snowboarding, sehingga belum ada yang memenuhi standar kualifikasi untuk 2026. Adaptasi atlet menjadi faktor penting Indonesia absen dari Olimpiade Musim Dingin.
4. Fokus Pembinaan pada Olimpiade Musim Panas
Indonesia secara konsisten tampil di Olimpiade Musim Panas dan bahkan berhasil meraih medali di beberapa edisi terakhir. Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) lebih memprioritaskan cabang-cabang unggulan yang berpotensi mendulang prestasi, seperti yang terbukti di Olimpiade Paris 2024 lalu.
Sumber daya terbatas membuat pembinaan olahraga musim dingin belum menjadi fokus utama yang membuat Indonesia absen dari Olimpiade Musim Dingin. Hal ini wajar mengingat basis massa dan tradisi olahraga di Indonesia lebih kuat di cabang musim panas.
5. Belum Maksimalnya Program Pengembangan
Meski ada kemajuan, program pengembangan olahraga musim dingin di Indonesia masih dalam tahap awal sehingga Indonesia absen dari Olimpiade Musim Dingin. NOC Indonesia telah mendaftarkan atlet muda snowboarding ke FIS dan mengikutsertakan kontingen di Asian Winter Games 2025 di Harbin, China. Ini menjadi debut bersejarah Indonesia di ajang multicabang musim dingin tingkat Asia.
Langkah ini menunjukkan komitmen untuk memperkenalkan olahraga es dan salju kepada atlet Tanah Air. Namun, untuk mencapai level Olimpiade, diperlukan investasi lebih besar, kerja sama internasional, dan program pelatihan di luar negeri yang berkelanjutan.
Peluang di Masa Depan
Menariknya, beberapa negara tropis lain berhasil mengirim wakil ke Olimpiade Musim Dingin 2026. Singapura, misalnya, mengirim Faiz Basha di cabang ski alpin. Negara-negara Amerika Latin seperti Brasil, Chile, hingga Jamaika juga rutin berpartisipasi meski dengan kontingen kecil.
Pengalaman ini membuktikan bahwa dengan pembinaan tepat, negara tropis bisa bersaing. Indonesia bisa mencontoh pendekatan tersebut, terutama dengan memanfaatkan fasilitas ice rink yang ada untuk cabang dalam ruangan sambil terus mengembangkan snowboarding.
Partisipasi di Asian Winter Games 2025 menjadi modal penting. Enam atlet Indonesia yang tampil di Harbin membawa pengalaman berharga yang bisa dikembangkan untuk edisi mendatang.
Indonesia absen olimpiade musim dingin 2026 memang meninggalkan rasa penasaran bagi pecinta olahraga Tanah Air. Namun, langkah kecil yang sudah diambil menunjukkan bahwa pintu menuju Olimpiade Musim Dingin suatu hari nanti bisa terbuka lebar. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen jangka panjang dari semua pihak, mulai pemerintah, NOC, hingga masyarakat.
Dengan lebih dari 3.500 atlet dari sekitar 93 negara bakal bertanding di Milan-Cortina, Olimpiade Musim Dingin 2026 tetap menjadi tontonan menarik.

