WASHINGTON, AS– Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengumumkan seleksi 25 perusahaan, di antaranya dua asal Ukraina, untuk mengikuti kompetisi Fase I Program Dominasi Drone. Langkah ini merupakan upaya agresif AS membangun arsenal drone serang satu arah murah dalam jumlah besar guna menutup kesenjangan teknologi dengan Rusia di medan perang modern.
Program tersebut menargetkan produksi dan penyebaran ratusan ribu drone bersenjata yang efektif dan terjangkau pada 2027. Uji coba penerbangan perdana dijadwalkan Februari mendatang, diikuti kontrak prototipe senilai sekitar USD 150 juta.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan pendekatan ini dalam memo resmi: “Kami membeli apa yang berhasil—cepat, dalam skala besar, dan tanpa penundaan birokrasi.” Pernyataan tersebut mencerminkan prioritas Pentagon untuk menghindari proses pengadaan lambat dan langsung mengadopsi solusi yang terbukti di lapangan.
Pengumuman ini datang di tengah pengakuan bahwa AS tertinggal dalam pemanfaatan drone dibandingkan Rusia, terutama setelah pengalaman pertempuran di Ukraina. Drone murah telah mengubah dinamika perang secara drastis: menghancurkan aset mahal lawan dengan serangan presisi, menghemat biaya, dan memberikan dampak tinggi di medan tempur.
Konflik Rusia–Ukraina mempercepat pergeseran taktik militer. Doktrin manuver besar-besaran era Perang Dunia II bergeser menjadi pola pertempuran yang lebih mirip Perang Dunia I, dengan artileri masif dan operasi unit kecil. Drone komersial murah dari kedua pihak telah menghilangkan “kabut perang” klasik—pengintaian udara konstan membuat pergerakan pasukan besar hampir mustahil dilakukan secara rahasia.
Kedua belah pihak kini mengandalkan rantai pengintaian-penembakan yang cepat: drone pengintai mendeteksi target, lalu drone serang langsung menghancurkan dalam hitungan menit.
Di Kongres AS, Komite Angkatan Bersenjata DPR mengusulkan pembentukan cabang khusus drone dalam Angkatan Darat melalui Rancangan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Fiskal 2025. Usulan ini bertujuan memprofesionalkan pengelolaan drone dan menyamakan statusnya dengan cabang militer konvensional lainnya, sebagai respons terhadap evolusi peperangan yang semakin bergantung pada teknologi tak berawak.
Program Dominasi Drone diharapkan tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi juga membangun basis industri drone domestik yang tangguh, memastikan AS siap menghadapi konflik masa depan dengan skala dan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya.
