JATIM – Konflik antarnelayan di wilayah Pasuruan, Jawa Timur, berujung ricuh dan aksi pembakaran. Sebanyak 11 perahu hangus terbakar, sementara dua warga mengalami luka bacok akibat penganiayaan.
Insiden ini melibatkan nelayan dari Dusun Kisik, Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, dengan nelayan Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Ketegangan yang memuncak pada Rabu (4/2/2026) malam memicu aksi balas dendam berupa pembakaran sarana tangkap ikan milik pihak lawan.
Kapolres Pasuruan Kota, AKBP Titus Yudho Uly, mengonfirmasi detail kerusakan tersebut. “Ada 10 perahu di sini (Pelabuhan Pasuruan), satu di Kisik,” kata Kapolres Pasuruan Kota AKBP Titus Yudho Uly.
Sepuluh perahu yang terbakar di Pelabuhan Pasuruan merupakan milik nelayan Dusun Kisik, dengan tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga sedang.
Satu perahu lainnya yang dibakar di wilayah Dusun Kisik diketahui milik nelayan Ngemplakrejo, meski kondisi detailnya masih dalam penyelidikan.
Pada Kamis (5/2/2026), aparat kepolisian memberikan pengamanan ketat saat nelayan Desa Kalirejo mengambil kembali perahu mereka yang tersisa di pelabuhan. Pengambilan tersebut berjalan kondusif dan hanya melibatkan perahu yang tidak terdampak pembakaran.
“Kami memberi pelayanan dan pengamanan kepada warga yang mengambil kapal. Tadi berjalan dengan lancar. Semua kapal milik nelayan Kalirejo sudah kami geser dari pelabuhan ke Kalirejo untuk mencegah aksi-aksi yang tidak diinginkan,” terang Yudho.
Selain kerusakan materi, dua korban luka bacok tercatat dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Moh Toha (32), warga Desa Kalirejo, yang mengalami luka pada perut dan kepala, serta Jefri Al Farisi (15), juga warga Kalirejo, dengan luka bacok di lengan.
“Korban yang mengalami penganiayaan, setelah dirawat di rumah sakit, kondisinya sudah membaik dan sudah pulang,” terang Yudho.
Petugas masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memasang garis polisi di lokasi perahu yang terbakar guna mendukung proses penyelidikan lebih lanjut. Polisi mengimbau kedua belah pihak menahan diri agar situasi tidak semakin memanas dan potensi bentrokan susulan dapat dicegah.
Konflik ini menambah catatan panjang perselisihan antarnelayan di kawasan pesisir Pasuruan yang kerap dipicu persaingan sumber daya laut dan penggunaan alat tangkap.