JATIM — Bentrokan dua kelompok nelayan di Pasuruan berujung kerusuhan pada Rabu malam (4/2/2026), menyebabkan sejumlah perahu dibakar dan dua warga mengalami luka bacok serius.
Konflik yang melibatkan nelayan dari Dusun Kisik, Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, dengan nelayan Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, dipicu perselisihan terkait penggunaan alat tangkap ikan, khususnya jaring trawl di perairan sekitar.
Akibat kerusuhan itu, belasan perahu rusak parah akibat api, dengan laporan bervariasi antara tujuh hingga sebelas unit terdampak di dua lokasi berbeda, termasuk area Pelabuhan Pasuruan dan Dusun Kisik. Dua korban luka bacok kini mendapat perawatan medis.
Anggota DPR RI dari Fraksi PKB, Muhammad Hilman Mufidi, yang akrab disapa Gus Hilman, menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan tersebut. Politisi dari Dapil Jawa Timur II ini menekankan bahwa perselisihan semacam ini seharusnya tidak berujung pada tindakan destruktif.
“Saya sangat prihatin dengan kejadian ini. Seharusnya peristiwa seperti ini tidak perlu terjadi,” ujar Gus Hilman, Kamis (5/2/2026).
Menurut Gus Hilman, anggota Komisi X DPR RI, konflik antarnelayan dapat dicegah dan diselesaikan melalui pendekatan yang lebih konstruktif. Ia menyoroti pentingnya dialog terbuka untuk menjembatani kepentingan masing-masing pihak.
“Masalah seperti ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik, duduk bersama, dan saling memahami kepentingan masing-masing,” tegasnya.
Gus Hilman mendesak pemerintah daerah setempat bersama aparat kepolisian untuk segera turun tangan melakukan mediasi yang melibatkan semua pihak terkait. Proses ini harus berjalan adil dan menyeluruh guna meredam ketegangan.
Lebih lanjut, politisi asal Dapil Jawa Timur II yang meliputi Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo itu menekankan perlunya pengawasan berkelanjutan pascamediasi.
“Setelah proses mediasi selesai, pemerintah daerah dan kepolisian harus tetap memantau dan mengawal penyelesaian kasus ini agar tidak memunculkan pertikaian kembali di kemudian hari,” ujarnya.
Ia berharap insiden ini menjadi momentum evaluasi bagi semua pihak untuk mencegah konflik sosial di kawasan pesisir. Pendekatan preventif melalui komunikasi intensif, kehadiran negara yang lebih kuat, serta perlindungan terhadap nelayan sebagai kelompok rentan dinilai krusial agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, kepolisian setempat terus melakukan penyelidikan mendalam terhadap pelaku pembakaran dan kekerasan, sambil memperketat pengamanan di lokasi rawan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.