BEIJING, CHINA – Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan masalah paling krusial dalam hubungan bilateral Tiongkok-Amerika Serikat saat berbicara melalui telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Rabu (4/2/2026).
Menurut laporan kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, Xi mengingatkan Trump agar AS menangani penjualan senjata ke Taiwan dengan bijaksana dan hati-hati. Xi menekankan, “Taiwan adalah wilayah Tiongkok. Beijing harus melindungi kedaulatan dan integritas teritorialnya. Amerika Serikat harus menangani masalah penjualan senjata ke Taiwan dengan bijaksana.”
Xi juga menyatakan bahwa Tiongkok tidak akan pernah membiarkan Taiwan terpisah dari daratan utama, sesuai komitmen lama Beijing untuk reunifikasi—yang tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan. Ia menambahkan, “Sama seperti Amerika Serikat memiliki kekhawatiran, China pun demikian. Jika kedua pihak bekerja ke arah yang sama dalam semangat kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan, kita pasti dapat menemukan cara untuk mengatasi kekhawatiran masing-masing.”
Percakapan telepon yang berlangsung panjang dan mendalam ini menjadi komunikasi publik pertama kedua pemimpin sejak November lalu. Trump menggambarkan dialog tersebut sebagai “sangat baik” serta “panjang dan menyeluruh” dalam unggahannya di Truth Social.
“Hubungan dengan China, dan hubungan pribadi saya dengan Presiden Xi, sangat baik, dan kami berdua menyadari betapa pentingnya untuk menjaganya tetap seperti itu,” tulis Trump.
Selain Taiwan, keduanya membahas berbagai isu strategis, termasuk perang Rusia di Ukraina, situasi terkini di Iran, serta potensi peningkatan pembelian energi dan komoditas AS oleh Tiongkok. Trump menyebut Beijing sedang mempertimbangkan impor kedelai AS hingga 20 juta ton pada musim ini—naik signifikan dari 12 juta ton sebelumnya—serta pembelian minyak, gas, dan pengiriman mesin pesawat.
Pertemuan virtual Xi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa jam sebelum panggilan dengan Trump menambah konteks geopolitik, di mana kedua pemimpin memuji penguatan hubungan Beijing-Moskow.
Panggilan ini menyusul gelombang kunjungan pemimpin Barat ke Tiongkok belakangan ini, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang bertujuan memperbaiki relasi dengan ekonomi terbesar kedua dunia. Trump dijadwalkan mengunjungi Tiongkok pada April mendatang, sebuah perjalanan yang disebutnya “sangat dinantikan”.
Hubungan AS-Tiongkok tetap rumit, terutama terkait Taiwan. AS tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taipei, tetapi tetap menjadi pemasok senjata utama pulau itu. Pada Desember lalu, pemerintahan Trump menyetujui paket penjualan senjata senilai sekitar USD 11 miliar ke Taiwan, mencakup peluncur roket canggih, howitzer swa-gerak, dan rudal berbagai jenis. Beijing langsung mengecam langkah itu sebagai upaya mendukung kemerdekaan Taiwan yang berisiko memicu situasi berbahaya di Selat Taiwan.
Panggilan telepon ini menandakan upaya kedua negara menjaga stabilitas hubungan di tengah ketegangan perdagangan dan isu keamanan global, meski perbedaan mendasar soal Taiwan tetap menjadi titik rawan utama.