ACEH – Memasuki tahap pemulihan pascabencana Sumatra, TNI mempercepat pembersihan fasilitas publik sebagai langkah strategis menghidupkan kembali aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan masyarakat terdampak.
Langkah konkret dilakukan prajurit TNI dengan membersihkan instalasi farmasi di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, menggunakan eskavator mini serta tenaga manual untuk mengangkat lumpur dan sampah plastik sisa banjir.
Hingga Sabtu (7/2/2026) di sejumlah desa di Kabupaten Pidie dan Bireuen, Aceh, TNI fokus memulihkan fungsi meunasah dengan membersihkan sisa lumpur, menata lingkungan sekitar, hingga melakukan pengecatan agar kembali layak digunakan warga.
Pemulihan tempat ibadah juga berlangsung di Kabupaten Gayo Lues, saat personel TNI bersama masyarakat bergotong royong memperbaiki masjid di Desa Sentul, Kecamatan Tripe Jaya, termasuk memasang kembali jendela yang rusak akibat bencana.
Di Sumatera Utara, pembersihan menyasar lintas rumah ibadah, mulai dari Masjid hingga Gereja HKBP Desa Bonalumban di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, serta Gereja Katolik Desa Hutagodang di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Selain rumah ibadah, prajurit TNI turut membersihkan kantor desa, pasar tradisional, dan berbagai fasilitas umum guna mempercepat pemulihan denyut aktivitas warga pascabencana.
Akses infrastruktur dasar juga menjadi perhatian, dengan pembersihan jalan desa di Kabupaten Tapanuli Utara seperti Desa Huta Julu di Kecamatan Parmonangan serta Desa Pagaran Lambung I dan Desa Sibalanga di Kecamatan Adian Koting.
Kegiatan pembersihan ini dilakukan secara kolaboratif antara TNI dan masyarakat agar mobilitas warga, distribusi kebutuhan harian, serta aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan lancar.
Masjid, gereja, pasar, dan fasilitas publik dinilai memiliki peran vital tidak hanya sebagai sarana aktivitas, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial, pendidikan, dan penguatan solidaritas warga.
Melalui sinergi antara pemerintah, TNI, dan masyarakat, proses pemulihan pascabencana di Sumatra diarahkan tidak sekadar membangun kembali fisik wilayah, tetapi juga menghidupkan kembali tatanan sosial masyarakat secara menyeluruh.***