JAKARTA — Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada hari ini (9/2/2026), masyarakat perlu mengenang salah satu tokoh penting yang mengawali perjalanan pers Indonesia, yakni Tirto Adhi Soerjo. Melalui berbagai media atau surat kabar yang dirintisnya, Tirto menjadi pelopor pers Indonesia. Atas jasa dan dedikasinya, Tirto Adhi Soerjo kemudian ditetapkan sebagai Bapak Pers Nasional.
Berikut empat fakta mengenai Tirto Adhi Soerjo yang wajib diketahui:
1. Kisahnya Pernah Diadaptasi Menjadi Tokoh Utama dalam Novel Pramoedya Ananta Toer
Kisah Tirto diadaptasi oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novel fenomenalnya berjudul Bumi Manusia yang termasuk dalam karya besar Tetralogi Pulau Buru. Meskipun demikian, di dalam novel tersebut namanya hanya disebut dengan inisial T. A. S. dan biasa dipanggil Minke.
2. Pengalaman yang Kaya di Dunia Pers
Dikutip dari Tirto.id, Tirto Adhi Soerjo memiliki pengalaman yang sangat kaya dan beragam di dunia pers. Ia pernah menjadi Penasihat Editorial Poetri Hindia (1908), Redaktur Kepala Pemberita Betawi (1901), Pemimpin Redaksi Pemberita Betawi (1902), Pemilik Soenda Berita (1903), Pemilik Medan Prijaji (1907), serta Pemilik Soeloeh Keadilan (1907).
3. Pernah Mengenyam Pendidikan Kedokteran
Meskipun dikenal sebagai tokoh jurnalistik, Tirto ternyata sempat menempuh pendidikan kedokteran. Dikutip dari IDN Times, Tirto bersekolah di STOVIA pada usia 13 tahun. Namun, karena berbagai kesibukan yang dihadapinya, ia tidak menyelesaikan pendidikan kedokterannya.
4. Berakhir dengan Pengasingan
Tirto Adhi Soerjo pernah terseret perkara delik pers akibat tulisan-tulisannya yang mengkritik rezim kolonial dan pejabat daerah. Pada Desember 1917, pengadilan kolonial memutuskan untuk mengasingkannya ke Maluku. Sepulang dari pengasingan, Tirto mengalami depresi berat karena harta dan asetnya telah hilang. Ia juga dijauhi rekan-rekannya karena masih berada dalam pengawasan aparat kolonial. Hingga akhirnya, pada 1918, Tirto Adhi Soerjo meninggal dunia.