SERANG – Ketua Dewan Pers periode 2025–2028, Komaruddin Hidayat, menegaskan pentingnya mempertahankan profesionalisme dan integritas dalam praktik jurnalistik di era disrupsi informasi yang semakin kompetitif.
Berbicara di Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Kota Serang, Banten, Senin (9/2/2026), Komaruddin menyoroti bagaimana perubahan pola konsumsi informasi saat ini membuat pers bersaing ketat dengan logika bisnis digital.
“Dalam perkembangannya, pers itu pelan-pelan digusur oleh informasi dengan logika bisnis. Sehingga yang menonjol itu sekarang bisnis informasi,” kata Komaruddin dalam sambutannya.
Ia menekankan, di tengah derasnya arus transformasi digital, media massa harus tetap menjadi penyampai informasi publik yang akurat, mendidik, dan berimbang agar kepercayaan masyarakat tidak tergerus oleh maraknya konten instan media sosial.
“Salah satu yang diharapkan dari pers itu adalah menjaga kepercayaan. Sekarang ini kepercayaan masyarakat pada pers masih tinggi, tapi lebih sibuk menikmati informasi dari medsos,” ujarnya.
Menurut Komaruddin, media sosial dan pers memiliki karakter yang berbeda secara mendasar. Media sosial kerap berfokus pada apa yang disukai audiens, sedangkan pers sejatinya harus tunduk pada prinsip akurasi, verifikasi, dan tanggung jawab publik.
“Salah satu cirinya kalau pers itu lebih rasional, objektif, bertanggung jawab. Sedangkan media sosial itu (hanya) menuruti memanjakan selera pembacanya, sehingga yang menonjol adalah sajian emosional, kadang-kadang sensasional,” katanya.
Meski demikian, Komaruddin tetap optimistis terhadap semangat insan pers dalam menjaga idealisme dan etika profesi di tengah tantangan zaman.
“Saya gembira di tengah suasana HPN ini walaupun ada keprihatinan dari insan pers tersebut, tapi masih ada antusiasme. Ada semangat luar biasa menjaga setidaknya integritas, profesionalisme, dan etika pers,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa kepercayaan publik (trust) merupakan modal utama yang harus terus dijaga agar pers tidak kehilangan legitimasi di mata masyarakat.
“Pers diharapkan tetap menjaga trust, dan itu hanya muncul didukung oleh profesionalisme,” ujar Komaruddin.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar nilai-nilai dasar seperti integritas, objektivitas, dan etika jurnalistik dijalankan secara kolektif.
“Oleh karena itu, trust, integritas, profesionalisme, objektivitas, dan etika ini hendaknya kita jaga bersama,” imbuhnya.
Komaruddin berharap momentum Hari Pers Nasional 2026 dapat menjadi pengingat kolektif bagi seluruh insan media untuk memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai luhur jurnalistik demi menjaga kredibilitas pers Indonesia di tengah arus informasi global yang kian cepat dan kompleks.***