Bertempat di Perpustakaan Nasional RI, UNICEF Indonesia secara resmi memperkenalkan Cinta Laura Kiehl sebagai Duta Nasional (National Ambassador) terbaru. Penunjukan ini menandai babak baru dalam advokasi hak anak di tanah air, mempertemukan pengaruh besar seorang figur publik dengan misi kemanusiaan yang mendesak.
Komitmen yang Berakar dari Realita Cinta Laura bukanlah sosok baru bagi UNICEF. Ia telah lama mendedikasikan suaranya untuk isu-isu krusial, mulai dari pencegahan perkawinan usia anak hingga akses pendidikan yang setara. Namun, sebuah perjalanan ke Asmat, Papua, pada akhir 2025 menjadi titik balik emosional baginya.
Di sana, ia menyaksikan langsung kontras antara potensi luar biasa anak-anak daerah terpencil dengan keterbatasan fasilitas yang mereka miliki.
“Bagi saya, mandat ini adalah tanggung jawab moral yang sangat personal. Potensi itu tersebar rata, tapi sayang, kesempatannya tidak,” ungkap Cinta Laura. “Melihat ketangguhan anak-anak di Asmat membakar semangat saya untuk memastikan mereka memiliki hak fundamental: tumbuh aman, sehat, dan penuh kasih. Kita harus membangun ekosistem di mana setiap anak punya garis start yang sama.”
Membawa Isu Anak ke Percakapan Utama
Maniza Zaman, Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, menyambut hangat bergabungnya Cinta. Menurutnya, Cinta membawa perpaduan antara ketulusan dan rasa ingin tahu yang nyata terhadap realita kehidupan anak-anak.
“Figur publik memiliki kemampuan unik untuk menginspirasi masyarakat agar berani menjadi pembela hak anak,” ujar Maniza. “Bersama Cinta, kami ingin menyoroti tantangan sekaligus solusi demi terwujudnya hak setiap anak di seluruh pelosok Indonesia.”
Visi Menuju 80 Tahun UNICEF
Sebagai Duta Nasional, fokus utama Cinta Laura akan mencakup:
-
Pendidikan & Perlindungan Anak: Memastikan lingkungan belajar yang aman.
-
Pemberdayaan Perempuan: Memutus rantai ketidakadilan gender sejak dini.
-
Aksi Iklim: Melindungi masa depan generasi mendatang dari krisis lingkungan.
Momentum ini terasa semakin spesial karena berdekatan dengan perayaan 80 tahun UNICEF secara global pada Desember 2026. Dengan jangkauan publiknya yang luas, Cinta bertekad menjadikan isu kesejahteraan anak bukan sekadar laporan statistik, melainkan bagian dari percakapan sehari-hari seluruh lapisan masyarakat.
