JAKARTA — Setiap tanggal 11 Februari, masyarakat Jepang memperingati Hari Peringatan Berdirinya Negara atau yang dikenal dengan nama Kenkoku Kinen no Hi. Hari libur nasional ini menjadi momen untuk merenungkan asal-usul bangsa dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Berbeda dengan hari kemerdekaan di banyak negara lain yang memiliki tanggal pasti, perayaan ini lebih bersifat simbolis dan berbasis legenda kuno.
Berikut lima fakta penting seputar hari spesial tersebut yang patut diketahui:
1. Arti Nama Kenkoku Kinen no Hi Menekankan Sifat Peringatan
Nama resmi hari ini dalam bahasa Jepang adalah Kenkoku Kinen no Hi, yang secara harfiah berarti Hari Peringatan Berdirinya Negara. Kata kinen (peringatan) dipilih secara sengaja agar tidak terkesan mengklaim tanggal tersebut sebagai fakta sejarah yang tak terbantahkan.
Berbeda dengan istilah kinenbi yang berarti hari jadi atau anniversary, penggunaan kinen no hi lebih mengarah pada makna reflektif dan penghormatan terhadap asal-usul bangsa. Pendekatan ini mencerminkan sikap hati-hati pemerintah Jepang pasca-perang agar hari libur tersebut tidak dikaitkan dengan nasionalisme berlebihan.
2. Tanggal 11 Februari Berasal dari Konversi Kalender Lunar Kuno ke Kalender Gregorian
Penetapan tanggal 11 Februari bukan tanpa alasan. Menurut catatan dalam buku sejarah kuno Nihon Shoki yang disusun pada abad ke-8, Kaisar Jimmu, kaisar pertama Jepang yang bersifat legendaris, naik takhta pada hari pertama bulan pertama tahun 660 SM menurut kalender lunar tradisional.
Saat Jepang beralih ke kalender Gregorian modern pada era Meiji, tanggal tersebut dikonversi menjadi 11 Februari. Pemilihan tanggal ini juga terkait dengan peristiwa penting lain, yaitu pengesahan Konstitusi Meiji pada 11 Februari 1889, sehingga menciptakan ikatan simbolis antara masa lalu legendaris dan modernisasi Jepang.
3. Pertama Kali Dirayakan pada Era Meiji
Hari peringatan ini pertama kali resmi ditetapkan pada tahun 1872–1873 di masa pemerintahan Kaisar Meiji dengan nama Kigensetsu atau Hari Pendirian Kerajaan. Tujuannya adalah memperkuat identitas nasional dan legitimasi kekuasaan kaisar di tengah upaya modernisasi Jepang.
Saat itu, pemerintah ingin menyatukan rakyat di bawah satu simbol kekaisaran yang dihubungkan dengan garis keturunan ilahi. Perayaan ini menjadi bagian dari strategi membangun kesadaran nasional di tengah perubahan besar pasca-Restorasi Meiji.
4. Dihapus setelah Perang Dunia II
Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, otoritas pendudukan Sekutu memutuskan untuk menghapus Kigensetsu pada tahun 1948. Hari tersebut dianggap terlalu terkait dengan ideologi nasionalisme dan mitos kekaisaran yang mendukung militerisme sebelum perang.
Penghapusan ini merupakan bagian dari upaya mendemokratisasi Jepang dan menghilangkan elemen-elemen yang dapat memicu semangat ultranasionalis. Selama hampir dua dekade, Jepang tidak lagi memiliki hari libur yang secara khusus memperingati pendirian negara.
5. Dihidupkan Kembali pada 1966–1967
Setelah melalui perdebatan panjang di parlemen, hari libur ini diaktifkan kembali pada tahun 1966 melalui undang-undang dan mulai dirayakan lagi pada 1967 dengan nama baru Kenkoku Kinen no Hi. Perubahan nama dan penekanan pada aspek peringatan mencerminkan semangat zaman baru yang lebih terbuka dan reflektif.
Pemerintah menegaskan bahwa hari ini bukan untuk mengagungkan masa lalu secara berlebihan, melainkan untuk mengenang perjuangan leluhur serta berharap kemajuan bangsa ke depan. Kini, perayaan lebih sederhana, berupa acara keluarga, parade kecil di beberapa daerah, serta pidato resmi yang menekankan perdamaian dan kemajuan.
Hari Peringatan Berdirinya Negara tetap menjadi salah satu momen penting dalam kalender Jepang meski tidak dirayakan dengan gegap gempita seperti festival musiman lainnya. Bagi masyarakat Jepang, tanggal 11 Februari menjadi pengingat akan akar budaya dan sejarah panjang yang membentuk identitas nasional hingga hari ini.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, hari libur ini mengajak setiap individu untuk sejenak merenung, menghargai warisan leluhur, serta berkontribusi bagi masa depan yang lebih baik bagi negara.
