Hampir tiga dekade setelah kematian vokalis Nirvana, Kurt Cobain, kasusnya kembali menjadi sorotan. Sebuah laporan forensik independen terbaru menyebut kematian sang musisi legendaris kemungkinan bukan bunuh diri, melainkan pembunuhan yang direkayasa.
Cobain ditemukan meninggal di apartemennya di Seattle pada 5 April 1997 dalam usia 27 tahun. Saat itu, penyebab kematian dinyatakan sebagai luka tembak di kepala yang dilakukan sendiri. Ia diketahui lama berjuang melawan depresi dan kecanduan narkoba.
Namun, sejak awal muncul berbagai teori konspirasi yang meragukan kesimpulan tersebut. Spekulasi berkembang soal dugaan catatan bunuh diri yang dimanipulasi hingga isu seputar kehidupan pribadinya.
Kini, tim forensik independen merilis kajian ilmiah yang menyebut Cobain kemungkinan dipaksa mengonsumsi heroin dalam dosis sangat tinggi hingga tak berdaya, sebelum akhirnya ditembak. Mereka juga mempertanyakan posisi senapan yang ditemukan di tangannya.
Peneliti independen Michelle Wilkins menyatakan ada kejanggalan dalam laporan autopsi, termasuk dugaan kerusakan organ akibat overdosis yang dinilai tidak selaras dengan kematian akibat tembakan.
Selain itu, lokasi kejadian disebut “terlalu bersih” untuk kasus bunuh diri dengan senapan, dan tidak ditemukan percikan darah di tangan Cobain.
Tim tersebut juga menyoroti peralatan heroin yang ditemukan tersusun rapi di lokasi. Mereka meragukan kemungkinan seseorang dengan kadar heroin jauh di atas batas mematikan masih mampu merapikan alat sebelum menembak dirinya sendiri.
Meski demikian, Kepolisian Seattle dan Kantor Pemeriksa Medis King County menegaskan tidak ada bukti baru yang cukup untuk membuka kembali kasus ini. Hingga Februari 2026, kematian Kurt Cobain secara resmi tetap diklasifikasikan sebagai bunuh diri.
Perdebatan pun kembali mencuat: apakah ini hanya kebangkitan teori lama, atau masih ada pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab?
