JAKARTA — Bila mendengar kata Yogyakarta, pasti angkringan menjadi salah satu hal yang terlintas di kepala. Tempat makan sederhana dengan bangku panjang, lampu petromak, dan berbagai jajanan serta minuman hangat ini selalu ramai dikunjungi dari sore hingga larut malam. Namun, di balik popularitasnya, masih banyak cerita sejarah dan asal-usul yang belum banyak diketahui masyarakat luas.
Berikut lima fakta menarik seputar angkringan yang patut disimak:
1. Awalnya Bernama HIK, Bukan Angkringan
Sebelum dikenal sebagai angkringan, tempat makan ini disebut Hidangan Istimewa Kampung (HIK). Nama HIK muncul karena menu yang disajikan merupakan hidangan khas kampung yang istimewa dan terjangkau. Di Solo, sebutan HIK bahkan lebih populer daripada angkringan hingga sekarang.
2. Berasal dari Solo pada Era 1930-an, Bukan Yogyakarta
Meskipun angkringan identik dengan Yogyakarta, asal-usulnya justru dari Solo. Tempat makan ini mulai ada sejak tahun 1930-an dan menjadi warisan budaya turun-temurun di kota tersebut. Kepopulerannya di Yogyakarta baru benar-benar melonjak pada 1950-an, ketika banyak pedagang mengembangkan usaha di sana dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Inilah alasan mengapa angkringan kini lebih dikenal sebagai ikon kuliner Yogyakarta ketimbang Solo.
3. Diciptakan oleh Eyang Karso Dikromo dari Klaten
Sosok di balik kelahiran angkringan adalah Eyang Karso Dikromo yang berasal dari Desa Ngerangan, Klaten. Sejak usia 15 tahun, ia merantau ke Solo untuk mencari peruntungan setelah ayahnya meninggal dan ia harus menghidupi keluarga sebagai anak tertua. Di Solo, ia bertemu Mbah Wiryo, dan bersama-sama mereka memulai usaha kuliner yang akhirnya menjadi cikal bakal angkringan modern.
4. Bermula dari Jajanan Malam dengan Menu Terik dan Wedang
Pada awalnya, Eyang Karso dan Mbah Wiryo menjual makanan bernama terik, yaitu hidangan khas Jawa Tengah berbahan dasar aneka protein yang dimasak dengan kuah kental. Mereka berjualan pada malam hari dengan gerobak pikul.
Untuk melengkapi menu, mereka menambahkan minuman hangat seperti wedang jahe, teh manis panas, kopi, serta ramuan tradisional lainnya. Karena banyak pengunjung hanya memesan minuman, keduanya berinovasi dengan menyediakan camilan sederhana seperti pisang goreng, singkong rebus, ubi goreng, dan berbagai jajanan kampung lainnya.
5. Nama Angkringan Berasal dari Gerobak Pikul
Istilah angkringan sendiri baru muncul belakangan yang berasal dari bahasa Jawa, “angkring” yang berarti alat atau tempat jualan makanan keliling. Awalnya, Eyang Karso dan Mbah Wiryo berjualan, menggunakan gerobak pikul. Alat ini memungkinkan pedagang membawa dagangan sambil berkeliling mencari pembeli. Seiring waktu, bentuk gerobak berevolusi menjadi model dorong dengan dua roda di samping, tetapi nama angkringan tetap melekat hingga kini.
