Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada penutupan perdagangan Kamis (12/2/2026), mengakhiri reli yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Indeks turun 0,31% ke level 8.265,35, setelah sehari sebelumnya sempat melonjak 1,96% ke 8.290,97.
Pelemahan IHSG dipicu tekanan di mayoritas sektor, terutama sektor kesehatan yang terkoreksi paling dalam sebesar 1,25%. Sektor barang konsumen non-primer turut melemah 0,92%, disusul sektor barang konsumen primer yang turun 0,60%.
Barang Baku dan Properti Jadi Penopang
Di tengah tekanan tersebut, empat sektor masih mampu bertahan di zona hijau. Sektor barang baku memimpin penguatan dengan kenaikan 1,46%. Sektor properti menyusul dengan pertumbuhan 0,94%, sementara sektor transportasi menguat 0,44%.
Berdasarkan data RTI Business, dari 822 saham yang diperdagangkan, sebanyak 384 saham ditutup melemah, 294 saham menguat, dan 144 saham stagnan. Nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp23,85 triliun dengan frekuensi 3,02 juta kali transaksi.
Saham Top Gainer dan Loser
Dari sisi pergerakan individu saham, SOTS menjadi top loser setelah anjlok 14,93%, diikuti HILL yang turun 14,68% dan LION yang melemah 14,62%.
Sebaliknya, saham LAPD mencatatkan penguatan paling signifikan atau top gainer dengan lonjakan 34,55%.
Tekanan dari Saham Big Caps
Pada sesi pertama perdagangan, tekanan terhadap IHSG dipimpin saham-saham berkapitalisasi besar. BREN turun 3,31%, BBCA melemah 1,01%, dan AMMN terkoreksi 2,56%.
Sementara itu, pergerakan bursa Asia cenderung bervariasi. Indeks Nikkei Jepang turun tipis 0,02% ke 57.639,84. Di sisi lain, Hang Seng Hong Kong naik 0,86% ke 27.032,54 dan Shanghai Composite menguat 0,05% ke 4.132,04.
Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham domestik. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing membukukan net sell sebesar Rp367 miliar di pasar reguler.
Koreksi IHSG hari ini mencerminkan aksi ambil untung (profit taking) setelah reli sebelumnya, di tengah sentimen global yang masih bergerak dinamis.
