JAKARTA — Pada saat ini teknologi AI sudah berkembang begitu pesat. Generative AI, seperti ChatGPT atau Grok, terus dikembangkan untuk mendekati versi terbaiknya. AI tersebut dapat menghasilkan berbagai karya, baik teks maupun visual. Hal ini menyebabkan kekhawatiran bagi banyak orang, khususnya mereka yang berprofesi sebagai penulis.
Namun, jangan khawatir. AI masih memiliki kekurangan yang membuat karya yang dihasilkannya tidak sebaik atau sebagus manusia.
Berikut lima alasan mengapa penulis tidak perlu takut pekerjaannya akan tergantikan oleh AI, dilansir dari IDN Times dan MarkPlus Institute:
1. AI Tidak Memahami Gaya dan Nada Tulisan Secara Mendalam
Penulis manusia mampu menyesuaikan gaya dan nada tulisan dengan konteks serta audiens, seperti nada hangat untuk motivasi atau profesional untuk bisnis. AI hanya menghasilkan teks generik berdasarkan instruksi sederhana, sering terasa kaku, kurang berkarakter, dan tidak beremosi. Brand besar masih mengandalkan penulis manusia untuk menjaga identitas suara merek yang konsisten.
2. Konten AI Tidak Ramah SEO Secara Optimal
SEO membutuhkan riset kata kunci mendalam, penempatan link strategis, dan pemahaman tren pencarian terkini. AI bisa menyisipkan kata kunci, tapi tidak mampu mengoptimalkan struktur konten agar kompetitif di mesin pencari. Akibatnya, trafik situs sering rendah. Penulis manusia tetap diperlukan untuk memastikan performa SEO maksimal.
3. Tulisan AI Rentan Halusinasi, Bias, dan Membutuhkan Fact-Checking Ekstra
AI sering menciptakan fakta palsu (halusinasi) atau bias dari data pelatihan. Kontennya juga berisiko mengandung plagiarisme. Penulis manusia memiliki kemampuan verifikasi teliti dan tanggung jawab menyajikan informasi kredibel. Menggunakan AI justru menambah waktu untuk pengecekan fakta.
4. AI Kurang Kreatif dan Inovatif Dibanding Manusia
Kreativitas manusia melahirkan ide orisinal, narasi mendalam, dan koneksi antarbidang yang menyentuh emosi. AI hanya merekombinasi pola yang sudah ada, sehingga hasilnya mudah ditebak. Dalam fiksi atau opini, sentuhan manusia tetap tak tergantikan.
5. AI Tidak Memiliki Etika Sosial dan Tanggung Jawab
Penulis manusia mempertimbangkan dampak sosial, menghindari konten diskriminatif, atau provokatif sesuai norma budaya. AI tidak memiliki kesadaran etika seperti manusia; ia hanya mengikuti prompt tanpa memahami konsekuensi. Di masyarakat Indonesia yang kaya nilai, peran manusia sangat krusial.
