JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2025 tidak hanya memperkuat ketahanan gizi nasional, tetapi juga memicu lonjakan penjualan motor hingga 4,9 juta unit dan menggairahkan sektor otomotif, pertanian, hingga peternakan secara signifikan.
Program MBG yang dijalankan pemerintah terbukti menciptakan efek domino ekonomi melalui pertumbuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah yang berdampak langsung pada peningkatan daya beli masyarakat.
Data terbaru menunjukkan penjualan sepeda motor melonjak tajam sepanjang 2025, seiring meningkatnya kebutuhan transportasi para pegawai SPPG serta ekspansi operasional program di ribuan titik layanan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menegaskan dampak luas program tersebut dalam forum Indonesia Economic Outlook di Jakarta.
“Ternyata program MBG tidak hanya menyasar produk-produk pertanian untuk menjadi bahan baku, tapi juga berdampak terhadap ekonomi lain,” kata Dadan dalam Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2).
Ia mengungkapkan, data dari salah satu agen tunggal pemegang merek menunjukkan angka penjualan sepeda motor mencapai 4,9 juta unit pada 2025.
“Ternyata dari data AHM, kita melihat angka penjualan motor mencapai 4,9 juta tahun 2025, dan ini terdongkrak oleh program MBG. Kenapa? Karena saya dapat laporan di SPPG itu, pegawainya sekarang 60 persen beli motor,” Dadan menerangkan.
Lonjakan penjualan tersebut berkaitan erat dengan peningkatan jumlah pegawai SPPG yang kini memiliki penghasilan tetap dan membutuhkan kendaraan pribadi untuk mobilitas kerja harian.
“Jadi kalau ada 50 orang, kali 60 persen artinya 30 orang beli motor, sehingga (penjualan) motornya naik,” paparnya.
Efek pertumbuhan MBG juga merembet ke sektor kendaraan roda empat karena kebutuhan operasional distribusi bahan pangan di setiap unit pelayanan.
“Kemudian juga berdampak terhadap salah satu merek mobil yang sedang beredar di masyarakat dan itu populer, yang selama ini mungkin tidak laku, karena satu WPBG butuh dua mobil, kalau sekarang sudah ada 23.000 SPPG, itu artinya dibutuhkan 46.000 mobil jenis itu, dan sekarang termasuk mobil yang sulit dicari,” beber Dadan.
Dengan jumlah SPPG yang telah mencapai 23.000 unit pada 2025, kebutuhan armada distribusi menjadi faktor kunci meningkatnya permintaan mobil operasional di berbagai daerah.
Tak hanya sektor otomotif, sektor pertanian modern seperti hidroponik turut merasakan lonjakan omzet akibat meningkatnya kebutuhan bahan baku pangan bergizi untuk program MBG.
“Petani hidroponik senang, karena naik omsetnya 100 persen,” tutur Dadan.
Kebangkitan ekonomi mikro juga terlihat dari pelaku usaha kecil seperti produsen tahu yang sebelumnya terpuruk kini kembali mendapatkan pasar tetap dari rantai pasok MBG.
“Ada pengusaha tahu yang sudah hampir bangkrut, sekarang bangkit kembali,” ujarnya.
Di sektor peternakan, permintaan susu segar meningkat drastis sehingga mendorong peternak di Boyolali dan Bandung melakukan ekspansi produksi serta investasi fasilitas penyimpanan dingin.
“Ada juga sekarang pabrik-pabrik susu atau peternak susu di Boyolali, di Bandung, sudah membuat susu pasteurisasi, dan juga mereka sudah membuat satu cold storage yang bisa memasok kebutuhan susu, dimana satu SPPG setiap hari butuh 450 liter susu,” ucapnya.
Kebutuhan 450 liter susu per hari untuk setiap SPPG memperlihatkan besarnya dampak ekonomi yang tercipta dari program MBG terhadap rantai pasok pangan nasional.
Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis 2025 tidak hanya memperkuat fondasi kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi nasional yang terdistribusi dari desa hingga kota melalui efek berantai yang nyata dan terukur.***
