JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya menjadi motor baru kebangkitan peternak ayam petelur lokal setelah sebelumnya mereka kesulitan menembus pasar dan menghadapi ketidakpastian pembayaran.
Implementasi MBG di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka ruang distribusi yang lebih stabil bagi produsen telur lokal sekaligus memperkuat rantai pasok pangan bergizi untuk anak-anak penerima manfaat.
Dampak nyata program MBG kini terlihat dari meningkatnya produksi telur harian yang mampu menembus 4.000 butir per hari hanya dari satu peternakan di Desa Kadi Pada, Kecamatan Tambolaka.
Benediktus Dalupe, peternak ayam petelur setempat, mengaku sebelum adanya MBG ia hanya mengandalkan penjualan ke pedagang ritel dengan volume fluktuatif dan sistem pembayaran yang tidak menentu sehingga arus kas usaha sering terganggu.
Perubahan signifikan terjadi dalam enam bulan terakhir ketika ia mulai menjadi pemasok tetap bagi dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Tanamanda di wilayahnya.
Setiap hari ia kini mampu memasok rata-rata 4.000 butir telur, bahkan dalam kondisi permintaan meningkat ia mengaku kewalahan memenuhi kebutuhan dapur MBG yang terus bertambah.
Peternakan dengan populasi sekitar 6.000 ekor ayam petelur itu saat ini rutin mengirim hingga 25 ikat telur atau sekitar 3.600 butir per pengiriman yang dilakukan tiga kali seminggu yakni Minggu, Selasa, dan Kamis.
Benediktus menilai kehadiran peternak lokal sebagai pemasok utama MBG turut menjamin kualitas protein yang diterima anak-anak karena telur tidak lagi menempuh perjalanan panjang dari luar daerah.
“Nah, sekarang dengan adanya peternak lokal yang mengembangkan usaha peternakan ayam petelur ini, pertama jaminan nutrisinya terjamin.”
“Tidak ada istilahnya telur busuk. Kemudian, dikonsumsi oleh penerima manfaat MBG juga tentu lebih baik. Artinya, jaminan telur fresh-nya betul-betul kita sediakan,” kata Benediktus ditemui di peternakannya, Rabu (11/2).
Ia juga menegaskan komitmennya terhadap program ketahanan pangan nasional yang menjadi prioritas pemerintah.
“Peternakan ini saya kembangkan untuk mendukung ketahanan pangan yang menjadi program prioritas dari Presiden Prabowo,” kata dia.
Meski sejumlah dapur MBG lain telah mengajukan permintaan pasokan, keterbatasan modal usaha dan jumlah tenaga kerja membuatnya belum mampu memperluas distribusi.
“Dengan kondisi saat ini yang SPPG-nya belum banyak pun, kami sudah kewalahan untuk menyuplai. Apalagi nanti kalau SPPG-nya sudah jalan semua di satu Kabupaten Sumba Barat Daya ini,” katanya.
Ke depan, ia menargetkan peningkatan populasi ayam hingga 20.000 ekor agar produksi dapat melonjak menjadi sekitar 18.000 butir per hari sehingga mampu melayani hingga enam dapur MBG sekaligus.
Untuk mewujudkan ekspansi tersebut, ia berharap ada dukungan pembiayaan dari lembaga perbankan termasuk bank-bank Himbara maupun lembaga keuangan lainnya agar peternak lokal dapat mempercepat pengembangan usaha.
“Makanya kita juga membutuhkan kemudahan akses kredit. Apakah melalui bank-bank Himbara atau dari aspek pihak-pihak lembaga yang lain untuk membantu kita. Karena kita mengembangkan ini tentu butuh biaya yang tidak sedikit,” katanya.
Efek Berganda bagi Ekonomi Desa
Program MBG tidak hanya meningkatkan produksi telur, tetapi juga menciptakan efek berantai terhadap perekonomian lokal di Sumba Barat Daya.
Lonjakan kebutuhan telur mendorong peningkatan permintaan jagung sebagai bahan baku utama pakan ayam sehingga petani jagung di sekitar peternakan memperoleh pasar baru yang lebih pasti.
“Jadi masyarakat selama ini memang membutuhkan telur segar, telur fresh. Dan itu yang belum didapatkan karena mereka mengonsumsi telur dari luar,” kata dia.
“Kita dulu tidak pernah pesan jagung untuk kebutuhan pakan. Sekarang butuh jagung. Jadi, otomatis petani di sekitar juga merasakan dampak,” kata Benediktus.
Dengan pola distribusi yang lebih pendek dan berbasis produksi lokal, MBG di Sumba Barat Daya tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah tetapi juga menggerakkan ekonomi desa secara berkelanjutan.***
