JAKARTA – Ancaman terorisme global pada 2026 kian bergerak dinamis dengan pola yang semakin terdesentralisasi dan adaptif. Model serangan terorganisir berskala besar mulai bergeser menjadi aksi individu atau lone wolf yang terinspirasi ideologi ekstrem melalui ruang digital.
Pengamat Terorisme dan Perbatasan Negara, Hamidin, menyebut perubahan lanskap ancaman ini tidak lagi bertumpu pada penguasaan wilayah fisik, melainkan pada penetrasi ideologis yang mampu memicu kekerasan sporadis.
“Kerawanan potensi serangan teroris global tahun 2026 dari episentrum konflik hingga ancaman lone wolf,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Garuda.Tv, Sabtu (14/2/2026).
Afghanistan Masih Jadi Episentrum
Afghanistan tetap menjadi titik krusial ketidakpastian keamanan sejak kembalinya Taliban berkuasa. Pemerintahan tersebut menghadapi tekanan serius dari ISIS-Khorasan Province (ISIS-K), yang menilai Taliban terlalu nasionalis dan tidak cukup merepresentasikan ideologi ekstrem global.
“Serangan bom terhadap fasilitas publik serta warga asing di Kabul pada awal 2026, termasuk insiden yang menewaskan korban sipil dan ekspatriat, membuktikan bahwa ISIS-K masih mempertahankan kapasitas operasional tinggi,” jelasnya.
Struktur kepemimpinan ISIS-K yang terfragmentasi membuat kelompok ini tetap bertahan meski figur-figur kuncinya dilumpuhkan. Di sisi lain, Al-Qaeda dinilai masih menjadi ancaman laten dengan strategi low profile yang menitikberatkan pelatihan, rekrutmen, serta penguatan ideologi.
“Al-Qaeda pun terus menjadi faktor risiko, meskipun mengadopsi pendekatan low-profile dengan prioritas pada pelatihan, rekrutmen, dan konsolidasi ideologi daripada aksi terbuka,” ungkapnya.
Kompleksitas di Perbatasan Pakistan-Afghanistan
Di kawasan Durand Line yang dikenal sebagai ungoverned spaces , aktivitas Tehrik-e Taliban Pakistan (TTP) memperumit situasi keamanan. Wilayah yang minim kontrol negara itu memperlihatkan bagaimana lemahnya pengawasan perbatasan berkelindan dengan ancaman terorisme.
Ketegangan diplomatik antara Islamabad dan Kabul terkait dugaan perlindungan terhadap TTP turut mempertegas dimensi geopolitik dalam isu keamanan regional.
Di Pakistan, ancaman datang secara berlapis. TTP meningkatkan serangan terhadap aparat keamanan, sementara ISIS-K mengeksploitasi sentimen sektarian untuk menargetkan komunitas Syiah.
“Serangan terhadap masjid Syiah di Islamabad pada Februari 2026 menjadi contoh nyata bagaimana terorisme memanfaatkan simbol keagamaan guna memicu polarisasi sosial,” terangnya.
Di Provinsi Balochistan, Balochistan Liberation Army (BLA) menunjukkan eskalasi taktis, termasuk penggunaan pelaku bom bunuh diri perempuan dalam serangan terhadap infrastruktur dan kepentingan asing.
India dan Eropa Waspada Ancaman Hibrida
Di India, dinamika keamanan juga berlangsung di berbagai lini. Di Jammu & Kashmir, The Resistance Front (TRF) masih aktif melancarkan serangan terhadap warga sipil dan aparat keamanan, berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi regional.
Ancaman juga muncul dari modul teror perkotaan berbasis teknologi. Ledakan bom mobil di New Delhi pada akhir 2025 memperlihatkan kemampuan sel kecil beroperasi mandiri melalui komunikasi terenkripsi.
Di Eropa, aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hibrida dan lone wolf . Meski ISIS dan Al-Qaeda kehilangan kendali teritorial, propaganda digital tetap efektif menginspirasi aksi individu. Serangan berbiaya rendah namun berdampak tinggi, seperti menggunakan kendaraan atau senjata tajam, dinilai sulit terdeteksi sejak dini.
Di saat bersamaan, pertumbuhan ekstremisme sayap kanan di Jerman dan negara-negara Skandinavia menunjukkan bahwa radikalisme tidak lagi identik dengan satu spektrum ideologi tertentu.
Indonesia: Ancaman Tersembunyi dan Radikalisasi Daring
Di Indonesia, tren serangan teror berskala besar memang menurun signifikan, terutama setelah pembubaran Jamaah Islamiyah pada 2024. Namun, ancaman belum sepenuhnya hilang.
“Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan simpatisan ISIS beroperasi secara desentralisasi, sebagaimana terlihat dari penangkapan individu terkait pada Januari 2026,” jelasnya.
Radikalisasi daring menjadi tantangan utama. Algoritma media sosial dinilai mempercepat penyebaran konten ekstrem kepada generasi muda. Selain itu, kekerasan bersenjata di Papua yang dikategorikan sebagai aksi terorisme masih mengganggu fasilitas publik dan rantai logistik sipil.
Hamidin menilai evolusi paling signifikan dalam terorisme modern adalah dominasi pelaku *lone wolf*, di mana proses radikalisasi berlangsung secara privat melalui konsumsi konten ekstremis.
“Ancaman terorisme global 2026 menunjukkan bahwa keamanan adalah proses berkelanjutan. Terorisme tidak lagi semata soal organisasi besar, tetapi juga individu yang terinspirasi ideologi kekerasan,” bebernya.
Menurutnya, pencegahan lone wolf di Indonesia harus dilakukan secara komprehensif melalui penguatan intelijen, peningkatan literasi digital, pembangunan kontra-narasi, serta keterlibatan aktif masyarakat sipil.
“Pencegahan lone wolf perlu dilakukan bersama-sama lewat penguatan intelijen, literasi digital, dan peran aktif masyarakat. Persatuan dan kewaspadaan adalah kunci menghadapi ancaman di era digital.”Pungkasnya.
