BOGOR – Babah Alun atau Mohammad Jusuf Hamka mengingatkan publik agar tidak gegabah melabeli Program Makan Bergizi (MBG) sebagai haram tanpa kajian yang utuh.
Menurutnya saat ini yang paling mendesak saat ini adalah memastikan kebutuhan gizi anak-anak Indonesia terpenuhi secara layak dan berkelanjutan.
Dalam pernyataan terbarunya, Babah Alun menilai polemik halal-haram yang beredar di tengah masyarakat berpotensi mengaburkan tujuan utama program pemenuhan gizi anak, yakni membangun generasi sehat, kuat, dan siap bersaing di masa depan.
Ia menegaskan bahwa tudingan tanpa tabayun hanya akan memperkeruh suasana, padahal jutaan anak membutuhkan asupan makanan setiap hari demi mendukung pertumbuhan fisik dan kecerdasan mereka.
“Jangan selalu suuzan (berprasangka buruk). Kalau kita suuzan, semuanya tidak ketemu. Coba deh.”
“Siapa yang mau kasih makan anak-anak kita kalau kita ngomong haram? Apakah yang ngomong haram bisa memberi makan yang halal? Belum tentu. Satu dua mangkuk saja dia belum bisa kasih,” ujarnya.
Babah Alun menjelaskan bahwa skala distribusi makanan dalam program nasional bukan perkara sederhana, karena setiap hari jutaan porsi harus dipersiapkan, diawasi, dan disalurkan kepada anak-anak di berbagai daerah dengan sistem yang terstruktur.
Menurutnya, kerja besar tersebut semestinya mendapat dukungan dan pengawasan konstruktif, bukan langsung dicurigai tanpa pemahaman menyeluruh terhadap proses pengolahan dan pengadaannya.
“Ini jutaan mangkok setiap hari. Jutaan piring setiap hari negeri memberi. Kenapa sih kita tidak mensyukuri? Yang penting makanannya halal,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa apabila ada kekeliruan dalam proses, mekanisme evaluasi tetap terbuka dan dapat dibahas bersama secara objektif tanpa harus terburu-buru menghakimi.
“Soal prosesnya itu jangan langsung dihakimi. Bahwa ini halal, ini haram. Tidak baik. Anak-anak kita butuh gizi,” katanya.
Babah Alun mencontohkan sejumlah negara tetangga yang mampu mencetak generasi muda unggul berkat perhatian serius terhadap kualitas gizi dan pendidikan sejak dini.
Menurutnya, ketika negara hadir membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui program makan bergizi, respons yang tepat adalah rasa syukur dan dukungan, bukan prasangka.
“Coba negeri-negeri tetangga kita. Semua dari generasi mudanya cerdas-cerdas. Ini kita kalau orang tuanya tidak mampu, ada negeri yang mau membantu. Kita harus bersyukur. Tidak bersuuzan dulu,” ujarnya.
Terkait aspek syariat, Babah Alun menegaskan bahwa persoalan halal-haram seharusnya diserahkan kepada otoritas yang kompeten agar tidak memicu kegaduhan di ruang publik.
Ia menyebut peran Majelis Ulama Indonesia sebagai lembaga yang memiliki kewenangan mengeluarkan fatwa sehingga dapat menjadi rujukan resmi bagi umat.
“Kalau ada yang tidak pas, kita bicarakan dengan ulama. Biarkan ulama, terutama Majelis Ulama Indonesia yang mengeluarkan fatwa,” katanya.
Babah Alun pun menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta harus menjadi landasan dalam menyikapi setiap persoalan sosial.
“Islam ini rahmatan lilalamin. Bukan rahmatan lilmuslimin. Rahmat untuk semua isi alam semesta, termasuk orang-orang nonmuslim, yang berbeda suku, etnis, semua,” jelasnya.
Dengan polemik yang masih bergulir, ia berharap fokus publik kembali pada substansi utama, yakni memastikan anak-anak Indonesia memperoleh gizi yang cukup, aman, dan sesuai ketentuan, demi masa depan bangsa yang lebih kuat.***