BOGOR — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah muncul tudingan bahwa kebijakan tersebut mematikan pelaku UMKM.
Namun pengusaha nasional Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun justru menilai MBG membuka lapangan kerja baru dan memperkuat rantai ekonomi kerakyatan.
Babah Alun menegaskan bahwa tuduhan MBG membunuh UMKM tidak berdasar karena program ini melibatkan banyak sektor usaha kecil, mulai dari peternak hingga pemasok bahan pangan segar.
Menurutnya, implementasi MBG secara nyata mendorong perputaran ekonomi daerah karena kebutuhan bahan baku disuplai oleh pelaku usaha lokal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
“Saya pikir tidak pas. Dengan adanya MBG ini, banyak lapangan pekerjaan yang tercipta,” ujar Babah Alun saat ditemui di Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (15/2).
Ia menjelaskan bahwa UMKM berperan penting sebagai penggerak koperasi dan distributor bahan pangan utama yang dibutuhkan dalam program MBG.
Pasokan telur, ayam, ikan, daging, susu, hingga sayur-mayur disebut mengalami peningkatan permintaan seiring berjalanannya program tersebut di berbagai daerah.
“Peternak telur, peternak ayam, ikan, semua daging, semuanya ikut terbeli. Sayur-sayuran juga terbeli,” ungkapnya.
Babah Alun mengakui pelaksanaan MBG masih menghadapi sejumlah tantangan teknis di lapangan, namun ia menilai perbaikan kualitas dan pengawasan harus menjadi agenda bersama, bukan alasan untuk menghentikan program.
“Memang mungkin saat ini belum sempurna. Seperti saya bilang, yuk kita sempurnakan bersama-sama,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk melihat MBG sebagai bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperluas penyerapan tenaga kerja dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Yuk kita dukung program pemerintah. Karena pemerintah bukan hanya MBG, tapi juga menyerap tenaga kerja orang-orang kita,” tegasnya.
Babah Alun menambahkan bahwa pemerintah saat ini terus merumuskan kebijakan strategis guna meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai program prioritas berbasis ekonomi kerakyatan.
“Dan pemerintah sedang mencari bentuk untuk menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya,” pungkasnya.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri dinilai menjadi salah satu instrumen yang tak hanya menyasar aspek kesehatan dan gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap sektor UMKM, koperasi, dan peternakan rakyat.
Dengan penguatan kolaborasi antar-pemangku kepentingan, MBG berpotensi menjadi model kebijakan sosial-ekonomi yang mampu mendorong pertumbuhan inklusif di berbagai daerah.***