JAKARTA – Perayaaan Imlek 2026 berbarengan dengan awal Ramadan 1447 H menghadirkan wajah baru perayaan lintas budaya di Indonesia yang dikemas dalam Festival Imlek Nasional perdana dengan rangkaian acara kolosal dan inklusif.
Momentum cukup langka ketika Tahun Baru Imlek 2026 dan awal Ramadan 1447 Hijriah berlangsung hampir bersamaan dinilai menjadi titik temu kebersamaan yang mempertegas identitas Indonesia sebagai bangsa majemuk.
Pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia menyebut Imlek 2026 sebagai momentum strategis untuk memperkuat harmoni sosial di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya.
Dalam dialog bertema Harmoni Imlek Nusantara 2026 bersama Garuda TV di Studio Ring 1 Medan Merdeka pada Selasa (17/2/2026), Deputi III Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, Aderia, menegaskan bahwa perayaan tahun ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Saya mungkin mau menekankan dulu soal momen yang berbarengan dengan Ramadan. Dua-duanya itu momentumnya adalah momentum orang-orang berkumpul ramai bersama keluarga. Jadi pasti akan terasa sekali,” ungkapa Aderia.
Menurutnya, irisan waktu antara Imlek dan Ramadan menjadikan suasana kekeluargaan terasa lebih kuat karena keduanya identik dengan tradisi berkumpul, berbagi hidangan, dan mempererat hubungan sosial.
Ia menjelaskan bahwa panitia secara sadar menangkap momen ini sebagai energi pemersatu bangsa di tengah keberagaman yang selama ini menjadi kekuatan utama Indonesia.
“Acara-acaranya sendiri kita sebut sebagai yang pertama dilakukan secara nasional dalam konteks Imlek Festival. Jadi, ini festival Imlek perdana di Indonesia, karena ada banyak rangkaian acaranya,” tuturnya.
Festival Imlek Nasional 2026 dirancang sebagai perayaan berskala nasional yang menghadirkan bazar UMKM, festival lentera, parade budaya, pertunjukan akulturasi seni, aktivasi museum, hingga agenda buka puasa bersama.
Konsep lintas budaya itu semakin relevan karena tahun ini menjadi kali pertama Imlek dan Ramadan hadir dalam fase waktu yang berdekatan sehingga ruang interaksi sosial terbuka lebih luas.
“Karena tahun ini Imlek berbarengan dengan Ramadan, ini sudah menjadi momen yang sangat bagus untuk mempersatukan. Nanti juga akan ada perayaan puncak pada tanggal 28 Februari.”
“Warga bisa datang beramai-ramai. Acara puncak itu pun akan didahului dengan salat tarawih terlebih dahulu,” terang Aderia.
Rangkaian kegiatan di Jakarta dipusatkan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, yang akan mulai diramaikan festival makanan dan bazar sejak 22 Februari 2026.
“Nanti silakan datang, karena di sana juga disediakan hidangan-hidangan. Yang spesial justru hidangan untuk buka puasa,” ajaknya.
Panitia memastikan konsep kuliner tahun ini dirancang berbeda karena fokus utama diarahkan pada sajian berbuka puasa yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
“Jadi teman-teman Tionghoa juga bisa menikmati suasananya. Biasanya kan kalau buka puasa ada “war takjil” di media sosial, sampai yang tidak puasa pun ikut “war”.”
Menurut Aderia, masyarakat tidak perlu lagi berburu takjil secara daring karena festival menghadirkan sekitar 200 tenant yang menyajikan aneka hidangan dan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah.
“Khusus untuk Lapangan Banteng, makanan yang dijual adalah makanan-makanan untuk berbuka puasa, dan semuanya halal. Jadi di situ toleransi dan persatuan sangat tergambar,” tutur Aderia.
Dengan konsep inklusif, sentuhan budaya Tionghoa, serta nuansa Ramadan yang kental, Imlek 2026 diproyeksikan menjadi etalase toleransi sekaligus ruang perjumpaan lintas iman yang memperkuat persatuan nasional.***