JAKARTA — Perayaan Hari Paskah selalu identik dengan telur berwarna-warni yang dihias atau telur cokelat yang menjadi favorit anak-anak. Simbol ini bukan sekadar hiasan atau camilan, melainkan memiliki makna mendalam yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Telur menjadi lambang kehidupan baru yang selaras dengan pesan utama Paskah, yaitu kebangkitan Yesus Kristus.
Berikut penjelasan lengkapnya dalam bentuk fakta-fakta menarik yang bisa menjadi wawasan bagi siapa saja yang ingin memahami tradisi ini lebih dalam:
1. Simbol kehidupan baru dan kebangkitan Yesus Kristus
Dalam tradisi Kristen, telur melambangkan kebangkitan Yesus dari kematian. Cangkang telur yang keras diibaratkan sebagai makam batu yang menutup tubuh Yesus, sementara proses penetasan anak ayam dari dalam telur menggambarkan munculnya kehidupan baru setelah kematian. Makna ini sangat sesuai dengan inti perayaan Paskah, yakni kemenangan atas maut dan harapan baru bagi umat manusia. Banyak sumber sejarah mencatat bahwa telur dipilih karena secara alami merepresentasikan kelahiran kembali, sehingga cocok untuk menyimbolkan pesan kebangkitan.
2. Warisan dari tradisi kuno sebelum era Kristen
Penggunaan telur sebagai simbol tidak dimulai oleh agama Kristen. Sejak zaman kuno, berbagai peradaban di Eropa, Timur Tengah, Persia, hingga Mesir sudah memandang telur sebagai lambang kesuburan, awal musim semi, dan kelahiran kembali alam. Misalnya, orang Romawi kuno menganggap bentuk oval telur sebagai representasi alam semesta, sementara di Abad Pertengahan telur dipercaya sebagai cikal bakal dunia. Ketika Kekristenan menyebar di wilayah-wilayah tersebut, simbol ini diadaptasi agar selaras dengan ajaran agama baru, sehingga telur tetap menjadi bagian penting dalam perayaan musiman yang berubah menjadi perayaan keagamaan.
3. Dampak kebiasaan puasa selama masa Prapaskah
Salah satu alasan praktis mengapa telur begitu menonjol saat Paskah adalah aturan puasa di masa lalu. Dalam tradisi Kristen kuno, umat dilarang mengonsumsi telur dan produk susu selama masa Prapaskah menjelang Paskah. Akibatnya, telur yang terkumpul disimpan hingga hari raya tiba. Saat Hari Paskah, telur-telur itu dimakan secara bersama-sama, dibagikan kepada tetangga, dan dirayakan sebagai tanda berakhirnya masa pantang. Kebiasaan ini melahirkan tradisi menghias telur rebus dan membagikannya sebagai ungkapan sukacita atas kebangkitan.
4. Perkembangan dari telur asli menjadi telur hias dan cokelat
Awalnya, telur yang digunakan adalah telur ayam asli yang direbus keras lalu diwarnai, terutama dengan warna merah untuk mengenang darah Yesus di kayu salib. Tradisi mewarnai telur ini tercatat mulai populer sejak abad ke-13, terutama di kalangan gereja Ortodoks. Seiring waktu, inovasi muncul untuk membuatnya lebih tahan lama dan menarik, terutama bagi anak-anak. Telur cokelat mulai diproduksi secara massal di Eropa pada abad ke-19, sehingga kini perayaan Hari Paskah identik dengan Easter egg hunt atau permainan mencari telur tersembunyi serta hadiah telur cokelat yang lezat.
5. Makna telur sebagai pengingat harapan dan pembaruan
Secara lebih luas, telur dalam Hari Paskah mengajarkan nilai harapan dan pembaruan hidup. Seperti telur yang tampak mati dari luar namun menyimpan potensi kehidupan di dalamnya, peristiwa kebangkitan mengingatkan bahwa dari keterpurukan bisa muncul awal yang baru. Tradisi ini juga memperkuat nilai berbagi dan kegembiraan keluarga, di mana telur menjadi media untuk menyatukan orang-orang dalam sukacita bersama.