JAKARTA — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa dan salat tarawih. Salah satu aspek penting yang kerap menjadi perhatian adalah niat, yang sudah menjadi syarat sah sekaligus penentu nilai ibadah di sisi Allah SWT.
Dalam ajaran Islam, dasar pentingnya niat merujuk pada hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Hadis ini menjadi landasan utama bahwa puasa dan tarawih harus diawali dengan niat yang tulus karena Allah SWT.
Niat Puasa Ramadan
Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib yang dilaksanakan sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Para ulama sepakat bahwa niat menjadi syarat sah puasa. Niat dilakukan di dalam hati sebagai bentuk kesungguhan menjalankan ibadah.
Dalam mazhab Muhammad ibn Idris al-Shafi’i, niat puasa Ramadan dilakukan setiap malam sebelum fajar. Sementara sebagai ulama mazhab lain memperbolehkan niat untuk satu bulan penuh di awal Ramadan, dengan catatan yang tidak terputus oleh hal yang membatalkan puasa seperti sakit atau safar.
Berikut bacaan niat puasa Ramadan yang umum dibaca:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan karena Allah Ta‘ala.”
Para ulama menegaskan bahwa yang terpenting adalah niat di dalam hati, sedangkan melafalkannya hanya sebagai bentuk membantu menghadirkan kesadaran.
Niat Salat Tarawih
Salat tarawih merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan pada malam hari selama bulan Ramadan setelah shalat Isya. Praktik tarawih berjemaah secara luas dilakukan sejak masa khalifah Umar bin Khattab, yang menghimpun umat untuk melaksanakannya secara bersama.
Sebagaimana salat lainnya, tarawih juga harus diawali dengan niat di dalam hati. Bacaan niat tarawih dua rakaat sebagai makmum:
Arab:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Ushallī sunnatat tarāwīhi rak‘ataini ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Saya niat salat sunah tarawih dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta‘ala.”
Jika dilaksanakan sendiri (munfarid), kata ma’mūman diganti dengan munfaridan.
Penekanan Sesuai Sunah
Dalam berbagai literatur fikih, para ulama menjelaskan bahwa inti niat adalah kesadaran hati untuk melakukan ibadah. Tidak ada dalil khusus yang mewajibkan pelafalan niat dengan suara keras. Oleh karena itu, praktik niat seharusnya difokuskan pada ketulusan dan keikhlasan.
Selain itu, ibadah puasa dan tarawih sesuai dengan sunnah tidak hanya menekankan tata caranya, tetapi juga menjaga adab, kekhusyukan, konsistensi. Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah, bukan sekedar menggugurkan kewajiban.
Dengan memahami panduan niat puasa dan tarawih secara benar, umat islam diharapkan dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih tenang, terarah, dan sesuai tuntunan syariat.