JAKARTA, 6 Februari 2026 — Indonesia menegaskan langkah strategisnya dalam memperkuat peran di perdagangan dan investasi dunia Islam melalui peluncuran B57+ Asia-Pacific Regional Chapter pada ajang Indonesia Economic Summit 2026 (IES 2026).
Inisiatif ini diarahkan untuk meningkatkan konektivitas ekonomi antarnegara Islam dan mitra strategis di kawasan Asia-Pasifik, dengan Indonesia sebagai simpul utama kerja sama.
Roundtable B57+ yang digelar oleh Indonesian Business Council (IBC) bersama Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) mempertemukan unsur pemerintah, pelaku usaha, dan mitra internasional.
Forum tersebut membahas langkah konkret dalam memperkuat perdagangan, investasi, dan integrasi pasar lintas kawasan.
Diskusi menyoroti besarnya potensi ekonomi dunia Islam yang dinilai belum terhubung secara optimal, baik dari sisi perdagangan intra-negara Islam maupun investasi jangka panjang.
Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menilai inisiatif B57+ sejalan dengan prinsip ekonomi Islam yang menekankan keadilan, kolaborasi, dan keterkaitan dengan sektor riil.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi halal dalam mendorong pertumbuhan nasional sekaligus memenuhi kebutuhan dunia usaha.
“Ekonomi halal merupakan salah satu penggerak penting perekonomian Indonesia.”
“Dengan basis pasar yang besar dan terintegrasi dari hulu ke hilir, ekonomi halal mampu mendorong pertumbuhan, memperluas akses pembiayaan, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai nilai global,” ujarnya.
Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council, Arsjad Rasjid, menjelaskan bahwa B57+ Asia-Pacific Regional Chapter dirancang sebagai platform bisnis yang inklusif, praktis, dan berorientasi pada eksekusi.
Menurutnya, dunia Islam memiliki skala pasar, populasi, dan basis produksi besar, namun masih menghadapi fragmentasi dalam konektivitas perdagangan dan investasi.
“B57+ tidak boleh berhenti di level diskusi. Inisiatif ini harus diarahkan untuk membuka jalur perdagangan dan investasi yang nyata, mulai dari kemitraan, pembiayaan, hingga proyek bersama yang bankable dan menarik bagi investor global,” tegasnya.
Arsjad menambahkan, Indonesia memiliki posisi strategis dan kredibilitas institusional untuk menjadi connecting hub antara Asia-Pasifik dan dunia Islam.
Dari perspektif global, Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development, Abdullah Saleh Kamel, menegaskan bahwa B57+ merupakan platform strategis yang mendorong kolaborasi berbasis aksi dalam ekosistem ekonomi negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Platform ini dirancang untuk menghubungkan pemimpin bisnis dan pembuat kebijakan dalam membangun jejaring yang berdampak bagi kemakmuran bersama.
“Kita harus membangun kerangka kerja yang kokoh berdasarkan prinsip hak dan kewajiban, bukan semata-mata pada perhitungan untung dan rugi.”
“Titik tolak kita adalah keyakinan akan kewajiban untuk memastikan terpenuhinya hak-hak, serta komitmen untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang tidak tergoyahkan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian IES 2026, B57+ Asia-Pacific Regional Chapter resmi diluncurkan pada 3 Februari 2026.
Inisiatif ini bertujuan memperkuat koordinasi dan dialog strategis di antara pelaku bisnis dan pemangku kepentingan di Asia-Pasifik, termasuk negara mitra non-Islam yang berperan penting dalam rantai nilai global.
B57+ Asia-Pasifik sendiri merupakan bagian dari inisiatif unggulan ICCD, yakni “B57+ Group”, yang menandai era baru integrasi ekonomi, perdagangan, dan investasi di dunia Islam.
Sebagai representasi pasar dinamis dan ekonomi berkembang pesat, B57+ Group berperan sebagai motor penggerak kemakmuran bersama dengan menyatukan komunitas bisnis Muslim di negara-negara anggota OKI dan mitra lainnya.
Melalui B57+ dan IES 2026, Indonesia menegaskan ambisinya untuk tidak sekadar menjadi pasar, tetapi juga pusat penghubung perdagangan dan investasi di dalam maupun di luar dunia Islam.
Dengan pendekatan pragmatis, berbasis kebutuhan dunia usaha, serta terbuka terhadap kolaborasi global, Indonesia membidik peran strategis di tengah besarnya skala ekonomi halal Asia-Pasifik.
Sebagai gambaran, nilai sektor makanan dan minuman halal di kawasan Asia-Pasifik telah mencapai USD 524,38 miliar.
B57+ Asia-Pacific Regional Chapter diharapkan menjadi katalis yang mampu menghubungkan produsen, pembiayaan, dan pasar secara lebih efektif, sekaligus mempercepat integrasi ekonomi dunia Islam.***
