JAKARTA — Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) resmi diluncurkan dalam rangkaian Indonesia Economic Summit (IES) 2026 untuk mempercepat kesiapan investasi kota di Indonesia. Urgensi inisiatif ini semakin nyata. Laporan PBB pada akhir 2025 mencatat bahwa kawasan urban Jakarta dan sekitarnya telah menjadi kawasan perkotaan terpadat di dunia dengan hampir 42 juta penduduk, menggeser Tokyo. Kondisi ini mencerminkan pesatnya pertumbuhan kota-kota di Indonesia sekaligus meningkatnya kebutuhan investasi perkotaan secara nasional.
Kota-kota di Indonesia menghadapi keterbatasan serius dalam pembiayaan investasi. Anggaran daerah masih didominasi transfer dari pemerintah pusat sebesar 70–80 persen yang bersifat terikat. Sementara itu, pendapatan asli daerah umumnya kurang dari 10 persen dan hampir seluruhnya terserap untuk belanja operasional. Di sisi lain, meskipun pinjaman daerah dan obligasi secara hukum dimungkinkan, implementasinya kerap terhambat oleh proses persetujuan berlapis, batas utang yang ketat, serta lemahnya basis aset daerah untuk mendukung pembiayaan.
Keterbatasan fiskal ini diperparah oleh rendahnya kesiapan proyek dan kapasitas teknis di tingkat kota. Banyak proyek belum didukung struktur pembiayaan yang jelas, penilaian risiko yang memadai, serta kesiapan kelembagaan yang kuat. Akibatnya, proyek-proyek tersebut sulit menarik investasi meskipun kebutuhan dan minat modal sebenarnya tersedia. Dalam konteks inilah ICIA hadir sebagai pengungkit untuk memperkuat kesiapan proyek dan membuka jalur investasi perkotaan yang lebih kredibel dan terstruktur.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang turut menyaksikan peluncuran ICIA, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta bukan sekadar soal angka, melainkan juga soal ketahanan. Mempertahankan daya saing di tengah tantangan banjir, kemacetan, dan tekanan urban membutuhkan tata kelola yang kuat serta koordinasi yang konsisten. Menurutnya, inilah realitas dalam mengelola sebuah kota global.
Chief Operating Officer Indonesian Business Council sekaligus salah satu inisiator ICIA, William P. Sabandar, menegaskan bahwa tantangan utama investasi perkotaan terletak pada aspek eksekusi. Indonesia, menurutnya, tidak kekurangan rencana maupun minat modal. Kota-kota pada dasarnya telah mengetahui prioritas pembangunan yang ingin diwujudkan. Namun, banyak proyek masih tersendat di antara tahap perencanaan, persetujuan, dan pembiayaan, sehingga belum bertransformasi menjadi proyek yang benar-benar siap investasi.
ICIA diluncurkan oleh para inisiator yang terdiri dari Bambang Susantono, Dekan Cities and Local Governments Institute (CLGI) Asia-Pasifik; Rachmat Kaimuddin, Deputi Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan; Sofyan Djalil, Chief Executive Officer Indonesian Business Council; William Sabandar, Chief Operating Officer Indonesian Business Council; serta Silvia Halim, Deputi Bidang Infrastruktur dan Fasilitas Otorita Ibu Kota Nusantara periode 2023–2024. Peluncuran ini turut disaksikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.
Ke depan, ICIA akan menjadi wadah yang mempertemukan pemerintah, sektor swasta, investor, lembaga pembiayaan, serta pemangku kepentingan perkotaan lainnya. Inisiatif ini merupakan komitmen bersama untuk memperkuat kesiapan investasi kota melalui kolaborasi lintas perspektif.
Peluncuran ICIA di IES 2026 menjadi titik awal penguatan ekosistem investasi perkotaan, sekaligus menandai pergeseran fokus dari sekadar perencanaan menuju aksi nyata dalam menjawab tantangan investasi perkotaan yang berkelanjutan.