JAKARTA – Microsoft resmi mengumumkan terobosan terbaru dari Project Silica, sebuah teknologi penyimpanan data berbasis kaca yang mampu menyimpan data berkapasitas terabyte selama 10.000 tahun. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada 18 Februari 2026.
Cara Kerja Teknologi Silica
Sistem ini bekerja mirip dengan CD multidimensi. Laser ultrasingkat (femtosecond laser) digunakan untuk mengubah struktur internal kaca sehingga data dapat dikodekan dalam bentuk voksel (voxel)—setara piksel dalam bentuk tiga dimensi. Cukup satu tembakan laser untuk mengukir satu voksel ke permukaan kaca.
Dalam demonstrasi yang dipublikasikan, tim Microsoft berhasil menuliskan 301 lapisan voksel. Chip kaca tersebut memiliki kapasitas penyimpanan hingga 4,8 terabyte—setara sekitar 2 juta buku cetak atau 5.000 film berkualitas ultra-high-definition .
Dari Kaca Mahal ke Kaca Dapur
Salah satu terobosan paling signifikan adalah penggunaan kaca borosilikat biasa sebagai media penyimpanan. Kaca jenis ini adalah material yang sama dengan yang digunakan pada produk Pyrex dan pintu oven di dapur rumah tangga . Sebelumnya, teknologi serupa hanya bisa diterapkan pada kaca fused silica murni yang mahal dan sulit diperoleh. Perubahan material ini membuka jalan menuju komersialisasi karena biayanya jauh lebih terjangkau dan ketersediaannya lebih luas.
Ketahanan Luar Biasa
Kaca yang digunakan sangat tahan terhadap air, panas, debu, dan medan elektromagnetik. Bahkan goresan pada permukaan kaca tidak akan merusak data yang tersimpan di dalamnya karena laser mengubah struktur internal kaca, bukan hanya permukaannya. Tim Microsoft memperkirakan data dapat bertahan aman selama 10.000 tahun atau lebih tanpa memerlukan daya listrik apa pun—cukup disimpan di rak.
“Kami sedang memecahkan masalah ‘Zaman Kegelapan Digital’. Rekaman kita saat ini disimpan di piringan magnetik rapuh yang terus-menerus mengalami degradasi; riset ini memastikan warisan digital kita menjadi permanen,” ujar Peter Kazansky, fisikawan optik dari University of Southampton .
Mengatasi “Zaman Kegelapan Digital”
Project Silica dimulai sekitar delapan tahun lalu dengan tim multidisiplin yang terdiri dari insinyur mekanik, insinyur elektronik, ilmuwan komputer, dan spesialis optik . Mereka berdiskusi intensif dengan berbagai organisasi seperti arsip nasional, museum, dan industri hiburan untuk mengidentifikasi kebutuhan pengguna .
Richard Black, Direktur Riset Project Silica, menjelaskan bahwa organisasi-organisasi tersebut memiliki data bernilai sangat tinggi yang ingin disimpan dalam jangka waktu sangat lama, dan mereka menginginkan media yang kebal dari malware, serangan siber, maupun manipulasi data .
Masa Depan Penyimpanan Data
Teknologi pembacaan data juga mengalami penyederhanaan, kini hanya membutuhkan satu kamera, bukan tiga atau empat seperti sebelumnya. Dalam skenario arsip berskala besar, ribuan keping kaca akan disusun di rak perpustakaan, dan robot akan mengambil keping yang dibutuhkan untuk dibaca menggunakan mikroskop terkomputerisasi, lalu didekodekan oleh Azure AI menjadi file digital.
“Kami telah menghilangkan semua tantangan ilmiah—sekarang, tinggal soal lasernya,” kata Black. “Dengan Silica, pengguna cukup menulis data ke kaca, dan setelah selesai, tidak ada biaya berkelanjutan. Ini akan mengubah cara kita berpikir tentang penyimpanan dan pelestarian data.”