JAKARTA – Ketegangan antar Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Gedung Putih pada Rabu (18/2/2026) meperingatkan bahwa “Iran akan sangat bijak jika membuat kesepakatan dengann Presiden Trump dan pemerintahannya,” ujar Sekretaris Pers Karoline Leavitt yang dilansir dari Hurriyet Daily News, Kamis (19/2/2026).
Pernyataan itu muncul di tengah pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Oman, setelah Trump berulang kali mengancam tindakan militer atas penindasan demonstran bulan lalu. Ancaman ini semakin nyata setelah Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran pada Juni lalu, memicu perang 12 hari yang sempat melibatkan Washington.
Trump kembali mengisyaratkan kemungkinan serangan melalui unggahan di Truth Social, menyebut pangkalan udara Diego Garcia di Kepulauan Chagos mungkin diperlukan “untuk memberantas potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya.” CNN dan CBS melaporkan militer AS siap melancarkan serangan paling cepat akhir pekan ini, meski keputusan final belum diambil.
Wall Street Journal menambahkan, Trump telah menerima opsi militer yang “dirancang untuk memaksimalkan kerusakan, termasuk kampanye untuk membunuh sejumlah pemimpin politik dan militer Iran.”
Iran Menolak Tunduk pada AS
Dari pihak Iran, diplomat Abbas Araghchi menyatakan Teheran sedang “menyusun kerangka kerja untuk pembicaraan di masa mendatang dengan AS.” Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menegaskan, “Kami tidak menginginkan perang,” namun menolak tunduk pada tuntutan Washington.
Sementara itu, Menteri Energi AS, Chris Wright menegaskan Washington akan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir “dengan cara apa pun.”
Di lapangan, AS menambah kapal induk di kawasan Teluk, sementara Iran memamerkan kekuatan militernya dengan latihan perang di Selat Hormuz, jalur vital minyak dan gas dunia.