MANILA, FILIPINA – Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, secara resmi mengumumkan pencalonannya sebagai presiden pada Pemilihan Umum 2028. Pengumuman tersebut disampaikan melalui pidato yang disiarkan secara nasional pada Rabu (18/2/2026), menandai babak baru dalam persaingan politik yang kian memanas dengan Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr.
Putri mantan Presiden Rodrigo Duterte itu menyatakan niatnya untuk mengikuti jejak sang ayah, yang kini menjalani persidangan di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait perang narkoba pada era kepemimpinannya.
“Butuh waktu 47 tahun bagi saya untuk menyadari bahwa hidup saya tidak pernah bertujuan hanya untuk diri sendiri,” kata Sara, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (18/2/2026).
Ia menekankan besarnya tanggung jawab terhadap keluarga, bangsa, dan para pendukung politiknya.
“Saya Sara Duterte, dan saya mencalonkan diri sebagai presiden di Filipina,” ujarnya dalam video yang disiarkan di televisi nasional.
Sara dan Marcos Jr. sebelumnya berpasangan dalam satu tiket pada Pilpres 2022 dan meraih kemenangan telak. Namun, aliansi tersebut runtuh setelah serangkaian konflik terbuka. Ketegangan memuncak ketika Sara sempat melontarkan ancaman pembunuhan terhadap Marcos, yang memicu upaya pemakzulan di Kongres, meski akhirnya gagal.
Hubungan keduanya semakin memburuk setelah Marcos menyetujui penangkapan Rodrigo Duterte oleh Kepolisian Nasional Filipina dan Interpol atas permintaan ICC. Sara juga sempat mendorong penyelidikan dugaan korupsi pada 2024 terkait penyalahgunaan dana pemerintah, yang berujung pada penangkapan sejumlah pejabat.
Dalam pengumumannya, Sara menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung atas perannya dalam membantu kemenangan Marcos pada 2022.
Filipina saat ini menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari korupsi endemik, tingkat kemiskinan yang masih tinggi, hingga krisis biaya hidup.
“Saya tidak bisa berlutut di hadapan setiap warga Filipina untuk meminta maaf. Sebaliknya, saya memberikan hidup, kekuatan, dan masa depan saya untuk melayani negara ini,” tuturnya.
Pengumuman dini ini, yang disampaikan dua tahun sebelum pemungutan suara, dinilai sejumlah pengamat sebagai langkah strategis untuk mengonsolidasikan basis dukungan di tengah ancaman impeachment baru dan tuntutan pidana korupsi yang dihadapinya. Analis politik menilai langkah tersebut berpotensi mengubah dinamika hubungan Filipina dengan mitra internasional, termasuk kemungkinan arah kebijakan luar negeri yang lebih condong ke China jika ia terpilih.
Pencalonan Sara Duterte diprediksi menjadi salah satu kontestasi paling sengit dalam sejarah politik Filipina kontemporer, dengan isu korupsi, warisan dinasti politik, dan krisis ekonomi sebagai sorotan utama.