Jakarta, 20 Februari 2026 – Hujan yang mulai turun sejak Kamis, 19 Februari 2026, dan berlanjut hingga Jumat pagi, 20 Februari 2026, membawa dampak luas di sejumlah wilayah. Guyuran yang berlangsung berjam-jam tanpa jeda membuat air perlahan memenuhi saluran drainase, meluap ke jalanan, lalu merendam permukiman warga.
Di Jakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sedikitnya 61 Rukun Tetangga (RT) terdampak genangan. Selain itu, enam ruas jalan utama turut tergenang sehingga memperlambat mobilitas warga pada pagi hari. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga mendekati satu meter di beberapa titik, tergantung kondisi lingkungan dan kontur wilayah. Beberapa jalan yang biasanya ramai di pagi hari kini tidak terlalu padat.
Hujan yang turun sejak sore hingga malam pada 19 Februari membuat debit air meningkat secara bertahap. Saat dini hari tiba, sejumlah kawasan dataran rendah mulai mengalami genangan. Permukiman padat penduduk menjadi area yang paling cepat terdampak karena daya serap tanah yang terbatas serta kapasitas saluran air yang tidak mampu menampung limpasan dalam waktu bersamaan. Bahkan di beberapa gang sempit, air terlihat mengalir seperti sungai mini, membawa sampah dan daun yang terbawa arus.
Di Jakarta Timur, kawasan Kebon Pala termasuk yang mengalami genangan cukup tinggi. Laporan sebelumnya menunjukkan air sempat mencapai lebih dari satu meter di beberapa titik. Kondisi ini membuat aktivitas warga tertunda pada pagi hari, terutama di lingkungan yang akses jalannya tertutup air. Genangan di jalan utama membuat kendaraan harus berjalan pelan, sementara beberapa warga memilih menggunakan rakit sederhana atau papan untuk menyeberang.
Wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan juga tidak luput dari dampak. Genangan di sejumlah ruas jalan menyebabkan arus kendaraan melambat. Transportasi umum melakukan penyesuaian rute di titik-titik tertentu untuk menghindari area dengan genangan air yang signifikan.
Dampak hujan sejak 19 Februari tidak hanya dirasakan di ibu kota. Di Bekasi, genangan dilaporkan mencapai 1,5 meter di beberapa kawasan Bekasi Utara, terutama di wilayah yang berdekatan dengan aliran sungai. Air yang naik secara bertahap sejak malam membuat sejumlah lingkungan terendam cukup dalam menjelang pagi.
Sementara itu, di Makassar, hujan semalaman menyebabkan genangan hingga sekitar 50 sentimeter di beberapa ruas jalan utama. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa hujan dengan durasi panjang masih menjadi tantangan di berbagai kota besar, khususnya saat puncak musim hujan.
Secara meteorologis, periode akhir Februari memang masih berada dalam pola musim hujan aktif di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah kota besar. Pergerakan massa udara lembap serta kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan menjadi faktor utama yang memicu curah hujan tinggi sejak 19 Februari.
Selain faktor cuaca, kondisi infrastruktur perkotaan turut memengaruhi dampak yang terjadi. Permukaan tanah yang semakin tertutup beton dan aspal membuat air hujan sulit meresap. Akibatnya, limpasan mengalir cepat menuju titik rendah dan memperbesar risiko genangan ketika hujan berlangsung lama. Genangan yang meluas juga menunjukkan bahwa kota perlu memperkuat drainase dan sistem resapan agar air hujan yang deras dapat ditampung dengan lebih efektif.
Menjelang siang pada 20 Februari, beberapa titik genangan mulai berangsur surut seiring berkurangnya intensitas hujan. Petugas terkait melakukan pemantauan serta penanganan di lokasi yang masih tergenang untuk mempercepat proses surutnya air. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena potensi hujan lanjutan masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan. Beberapa sekolah dan kantor menunda kegiatan atau menyesuaikan jadwal agar warga tidak terlalu terdampak.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa hujan yang turun terus-menerus sejak 19 Februari mampu mengubah ritme kota dalam hitungan jam. Aktivitas yang biasanya dimulai pagi hari harus menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Di tengah genangan yang perlahan menyusut, kota berusaha kembali bergerak, sambil tetap menatap langit yang masih menyimpan kemungkinan hujan berikutnya. Suasana pagi yang basah menjadi cerita baru tentang ketangguhan warga kota menghadapi hujan deras yang tak kenal waktu.