JAKARTA – Perkembangan olahraga padel di Indonesia dalam dua hingga tiga tahun terakhir menunjukkan tren yang signifikan. Olahraga raket yang berasal dari Meksiko dan berkembang pesat di Spanyol ini kini menjadi bagian dari gaya hidup urban di kota-kota besar Indonesia. Lapangan-lapangan padel bermunculan di kawasan komersial, pusat kebugaran, hingga area yang berdekatan dengan permukiman warga.
Menurut data dari International Padel Federation (FIP), padel telah dimainkan di lebih dari 90 negara dengan puluhan juta pemain secara global. Tren global tersebut ikut memengaruhi pertumbuhan di Indonesia. Dalam beberapa pernyataan publik, Dito Ariotedjo menyebut padel sebagai olahraga sosial (social sport) yang potensial berkembang karena mudah dimainkan dan mampu menjangkau berbagai kelompok usia.
Di Indonesia sendiri, pertumbuhan lapangan padel paling terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sejumlah fasilitas olahraga baru memasukkan padel sebagai bagian dari layanan utama mereka. Tarif sewa lapangan yang berkisar ratusan ribu hingga lebih dari satu juta rupiah per sesi menunjukkan bahwa pasar padel saat ini menyasar kelas menengah ke atas, khususnya profesional muda dan komunitas urban.
Namun, di balik pertumbuhan yang pesat tersebut, muncul persoalan baru di sejumlah kawasan, terutama yang lapangannya berdampingan langsung dengan area permukiman. Beberapa warga mulai menyampaikan keluhan terkait kebisingan, lalu lintas kendaraan, dan aktivitas hingga malam hari.
Kebisingan Jadi Sorotan
Padel dimainkan di lapangan berdinding kaca dan pagar logam. Karakteristik ini membuat suara pantulan bola terdengar lebih tajam dibandingkan tenis konvensional. Permainan yang dilakukan secara berkelompok dan cenderung komunikatif juga menambah intensitas suara di sekitar lapangan.
Dalam konteks regulasi di Indonesia, kebisingan lingkungan diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Untuk kawasan permukiman, ambang batas kebisingan umumnya berada di kisaran 55 desibel pada siang hari. Sementara itu, aktivitas olahraga dengan intensitas tinggi berpotensi menghasilkan tingkat suara di atas angka tersebut, terutama jika berlangsung terus-menerus dalam durasi panjang.
Jika lapangan beroperasi dari pagi hingga malam, potensi gangguan terhadap kenyamanan warga menjadi lebih besar. Beberapa fasilitas padel di kota besar bahkan beroperasi hingga pukul 22.00 atau 23.00, menyesuaikan permintaan pasar yang tinggi setelah jam kerja.
Dampak Lalu Lintas dan Parkir
Selain kebisingan, peningkatan arus kendaraan juga menjadi isu. Lapangan padel umumnya dimainkan oleh empat orang per sesi, dan dalam satu malam bisa terjadi beberapa pergantian jadwal. Jika fasilitas tidak memiliki lahan parkir memadai, kendaraan pengunjung berpotensi menggunakan badan jalan di lingkungan sekitar.
Di kawasan padat seperti sebagian wilayah Jakarta dan Bandung, kondisi ini dapat mempersempit akses jalan warga serta meningkatkan risiko kemacetan lokal. Permasalahan tersebut biasanya muncul pada jam-jam sibuk, terutama malam hari dan akhir pekan.
Tantangan Regulasi dan Tata Ruang
Secara umum, pembangunan fasilitas olahraga di Indonesia harus memenuhi ketentuan perizinan bangunan dan tata ruang daerah. Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menentukan zonasi antara kawasan komersial dan permukiman. Namun, pesatnya pertumbuhan padel membuat pengawasan dan evaluasi dampak lingkungan perlu dilakukan lebih cermat.
Para pengamat tata kota menilai bahwa tren olahraga baru seperti padel membutuhkan pedoman teknis khusus, termasuk pengaturan jarak minimal dari permukiman, standar peredam suara, serta pembatasan jam operasional. Tanpa aturan yang jelas, potensi konflik horizontal antara pengelola usaha dan warga sekitar bisa meningkat.
Menjaga Keseimbangan
Di sisi positif, padel berkontribusi pada peningkatan aktivitas fisik masyarakat perkotaan dan membuka peluang ekonomi baru. Industri pendukung seperti pelatih, penyedia perlengkapan olahraga, hingga sektor kuliner di sekitar fasilitas ikut merasakan dampaknya. Minat generasi muda terhadap olahraga ini juga memperlihatkan adanya diversifikasi pilihan aktivitas sehat di luar cabang olahraga konvensional.
Namun, pertumbuhan industri olahraga tetap harus memperhatikan prinsip keberlanjutan dan kenyamanan lingkungan. Pemasangan panel akustik, penggunaan material peredam, pembatasan jam operasional, serta penyediaan lahan parkir yang memadai merupakan beberapa langkah mitigasi yang dapat diterapkan.
Popularitas padel di Indonesia menunjukkan bahwa olahraga ini bukan sekadar tren sesaat. Akan tetapi, agar perkembangannya tidak menimbulkan resistensi sosial, diperlukan sinergi antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dengan pengaturan yang tepat, padel dapat terus berkembang tanpa mengorbankan kualitas hidup warga di sekitarnya.