JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus mematangkan rencana pembelian 50 unit pesawat Boeing yang menjadi bagian dari kesepakatan dagang strategis antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di bawah skema Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Langkah ini dipimpin langsung oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, yang menegaskan bahwa proyek tersebut ditujukan untuk memperkuat armada udara nasional serta memperluas konektivitas transportasi udara di Tanah Air.
“Pada kesempatan ini dari kesepakatan antara Agreement Reciprocal Trade ini ada beberapa kegiatan yang memang menyangkut di Kementerian Investasi maupun Danantara.”
“Karena ada beberapa kesepakatan di antaranya adalah pembelian, rencana pembelian 50 pesawat oleh Boeing,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Washington D.C., Jumat (20/2/2026).
Rosan mengatakan pembicaraan detail dengan Boeing masih berlangsung dan pemerintah belum dapat mengungkapkan nilai transaksi maupun jadwal pengiriman karena proses negosiasi masih berjalan.
“Nantinya kita akan membicarakan hal tersebut dengan Boeing. Sebelumnya, sudah ada pembicaraan awal dengan pihak tersebut,” katanya.
Selain pesawat, kerja sama ini juga mencakup sektor energi. Melalui BPI Danantara, Indonesia akan melaksanakan komitmen pembelian minyak mentah asal Amerika Serikat dengan nilai transaksi mencapai sekitar 15 miliar dolar AS per tahun.
“Hal tersebut mungkin berkaitan dengan dua hal. Implementasinya berada dalam ruang lingkup Danantara,” tambahnya.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa Amerika Serikat resmi membebaskan bea masuk untuk 1.819 jenis produk unggulan asal Indonesia, baik dari sektor pertanian maupun industri, setelah penandatanganan ART di Washington D.C., Kamis (19/2/2026).
“Dalam ART ini terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia. Baik pertanian maupun industri,” tutur Airlangga.
Ia menjelaskan bahwa produk yang mendapat fasilitas bebas tarif di antaranya minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, serta berbagai komponen elektronik termasuk semikonduktor dan peralatan pesawat terbang.
“Adapun produk tersebut meliputi minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, serta komponen elektronik termasuk semikonduktor. Kemudian juga komponen pesawat terbang dengan tarif 0 persen,” ujarnya.
Airlangga menambahkan, sektor tekstil dan pakaian jadi juga memperoleh keuntungan besar dari perjanjian ini melalui sistem kuota tarif khusus yang berpotensi menggerakkan jutaan tenaga kerja domestik.
“Hal ini memberikan manfaat bagi empat juta pekerja di sektor tersebut. Jika dihitung bersama keluarganya, dampaknya dapat dirasakan sekitar 20 juta masyarakat Indonesia,” lanjutnya.
Sebagai timbal balik, Indonesia akan memberikan bea masuk nol persen untuk sejumlah komoditas utama asal Amerika Serikat seperti gandum (wheat) dan kedelai (soybean) guna menjaga stabilitas harga pangan dalam negeri.
“Sehingga masyarakat Indonesia membayar tarif 0 persen untuk barang yang diproduksi dari soybean maupun wheat. Produk tersebut antara lain berupa noodle, tahu, dan tempe,” kata Airlangga.
Selain itu, kedua negara juga menyepakati penghapusan bea masuk terhadap seluruh transaksi ekonomi digital antarnegara, sejalan dengan posisi Indonesia dalam forum perdagangan dunia yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital global.
Pemerintah Indonesia tetap memastikan keamanan data lintas batas sesuai undang-undang perlindungan data, dengan menjamin kesetaraan standar regulasi terhadap mitra Amerika Serikat.
“Indonesia juga berkomitmen untuk mengurangi hambatan tarif dan non-tarif. Indonesia turut memberikan kepastian regulasi terutama di sektor ICT, kesehatan, dan farmasi,” pungkas Airlangga.
Perjanjian internasional ini akan berlaku efektif 90 hari setelah seluruh proses ratifikasi hukum di kedua negara rampung.
Pemerintah dan DPR akan segera melakukan pembahasan intensif untuk memastikan kesiapan implementasinya, termasuk pembentukan Council Board guna mengkaji potensi penyesuaian tarif di masa depan.***