Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menandatangani dokumen bersejarah bertajuk “Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance” di Washington DC, Kamis (19/2/2026). Perjanjian ini menjadi fondasi baru bagi hubungan ekonomi kedua negara melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Kesepakatan ini merupakan titik temu dari negosiasi alot sejak April 2025. Di bawah kepemimpinan Trump, AS setuju memberlakukan tarif 19 persen bagi produk Indonesia—jauh lebih rendah dari ancaman semula yang mencapai 32 persen.
Sebagai timbal baliknya, Indonesia meraih prestasi besar dengan mengamankan tarif nol persen untuk 1.819 pos tarif produk unggulan, termasuk:
-
Minyak sawit, kopi, kakao, dan karet.
-
Semikonduktor dan komponen pesawat.
-
Produk tekstil dan pakaian jadi (melalui kuota TRQ).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan bahwa perjanjian ini akan mulai berlaku 90 hari setelah proses ratifikasi, termasuk konsultasi dengan DPR RI.
Danantara Kelola Pembelian 50 Pesawat Boeing
Salah satu pilar utama kesepakatan ini adalah komitmen Indonesia untuk melanjutkan pembelian 50 unit pesawat Boeing dengan nilai fantastis mencapai 13,5 miliar dolar AS (sekitar Rp210 triliun). Proyek raksasa ini akan dikelola langsung oleh Danantara, badan pengelola investasi baru Indonesia.
Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengonfirmasi bahwa Garuda Indonesia diproyeksikan menjadi penerima utama armada ini, yang didominasi tipe Boeing 777, serta campuran 737 dan 787 Dreamliner. “Pembicaraan awal sudah ada dan ini akan kita lanjutkan secara konkret,” tegas Rosan dalam konferensi pers virtual (20/2/2026). Pengiriman unit diperkirakan mulai berjalan paling cepat pada 2031.
Komitmen Energi dan Pertanian senilai 38,4 Miliar Dolar AS
Kesepakatan ini tidak hanya soal pesawat. Indonesia juga berkomitmen untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan nasional melalui impor dari AS senilai:
-
15 miliar dolar AS/tahun: Gas alam (LNG) dan minyak mentah (crude oil).
-
4,5 miliar dolar AS: Produk pertanian.
Secara total, nilai kesepakatan komersial yang diteken kedua pemimpin negara ini diperkirakan mencapai 38,4 miliar dolar AS. Langkah berani ini dipandang sebagai strategi jitu Presiden Prabowo untuk menyeimbangkan neraca perdagangan sekaligus mengamankan akses pasar AS bagi komoditas strategis Indonesia di tengah kebijakan proteksionisme Trump.