JAKARTA – Apa yang terjadi semula hanya berupa rumor di kalangan operator sirkuit Phillip Island, kini berkembang menjadi krisis besar setelah adanya petisi pemerintah setempat.
Keputusan itu akhirnya mencapai lingkaran dalam MotoGP Australia : tahun 2026 akan menjadi ajang MotoGP terakhir di sirkuit tersebut. Dilansir dari Speedweek, Sabtu (21/2/2026), pergeseran strategis ini juga berdampak pada Kejuaraan Dunia Superbike.
Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, termasuk legenda MotoGP Casey Stoner. Mantan pembalap pabrikan Jeremy McWilliams, yang pernah mencatat pole position terakhir dengan mesin GP 500cc dua tak di Phillip Island, menegaskan: “Anda dapat bertanya kepada pembalap mana pun tentang trek favorit mereka – dan 90 persen akan mengatakan Phillip Island. Trek ini benar-benar unik… Begitulah cara sesuatu yang unik tercipta – sirkuit luar biasa yang menghasilkan balapan yang sama luar biasanya.”
McWilliams memuji karakteristik lintasan seperti Tikungan 11 dan 12, Tikungan 1 yang sering dilalui dengan drift di gigi lima, serta titik buta Lukey Heights. Menurutnya, hanya di Phillip Island pembalap bisa menunjukkan performa luar biasa. Ia menambahkan: “Balapan Rossi berlomba melawan waktu, tetapi juga selalu ada drama dan hasil akhir yang ketat – itulah yang ingin dilihat penggemar di seluruh dunia.”
Phillip Island memang menyimpan momen bersejarah, mulai dari kemenangan Valentino Rossi pada 2013 meski terkena penalti waktu, hingga final epik 2023 ketika Johann Zarco memimpin lima pembalap dengan selisih hanya satu detik di garis finis.
Namun, McWilliams menyebut keputusan memindahkan balapan ke sirkuit jalanan Adelaide sebagai “hari yang kelam bagi MotoGP”. Ia menilai argumen soal kapasitas penonton tidak sebanding dengan hilangnya sensasi balapan berkecepatan tinggi. “Keputusan seperti ini biasanya hanya memiliki efek positif jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang dapat merugikan olahraga. Kegembiraan balapan kecepatan tinggi di Phillip Island bagi penggemar di sana dan jutaan orang yang menonton di televisi tidak tergantikan,” ujarnya.
Mantan pahlawan GP berusia 61 tahun itu menutup dengan kritik tajam, menyebut keputusan ini lebih berorientasi pada tontonan balapan jalanan ketimbang menjaga kualitas balapan kelas atas.